Halal Buat Kami – Haram Untuk Tuan

 
Abdurrahman Abdullah ibn al Mubarak al Hanzhali al Marwazi Halal Buat Kami - Haram Untuk Tuan
Adalah Abu ‘Abdurrahman Abdullah ibn al Mubarak al Hanzhali al Marwazi, seorang ulama’ masyhur di Makkah yang menceriterakan riwayat ini.
Suatu ketika, setelah selesai menjalani ritual ibadah haji, ia beristirahat dan tertidur. Dalam tidurnya ia bermimpi melihat dua Malaikat yang turun dari langit, dan mendengar percakapan keduanya.
“Berapa orang yang datang tahun ini (untuk haji) ?” tanya satu malaikat kepada malaikat lainnya.
“Tujuh ratus ribu jama’ah” jawab Malaikat yang ditanya.
“Berapa banyak dari mereka yang diterima ibadah hajinya ?”
“Tidak satupun”
—– *** —–
Percakapan itu membuat sang Abdullah al Mubarak bergemetar.
“Apa ?” ia menangis dalam mimpinya. “Semua orang – orang ini telah datang dari belahan bumi yang jauh, dengan kesulitan yang besar dan keletihan di sepanjang perjalanan, berkelana menyusuri padang pasir yang luas, dan semua usaha mereka menjadi sia – sia ?”
Sambil gemetar, ia melanjutkan mendengar percakapan kedua malaikat itu.
“Namun ada seseorang, yang meskipun tidak datang menunaikan ibadah haji, akan tetapi ibadah hajinya diterima dan seluruh dosanya telah diampuni. Berkat dia seluruh ibadah haji mereka diterima oleh Allah”
“Kenapa bisa begitu ?”
“Itu kehendak Allah”
“Siapa orang tersebut ?”
“Sa’id ibn Muhafah tukang sol sepatu di Kota Dimasyq (Damaskus)”
Mendengar ucapan itu, Abdullah al Mubarak itupun langsung terbangun dari tidurnya. Sepulang haji, ia tak langsung pulang menuju rumah, akan tetapi langsung menuju kota Damaskus, Syiria. Hatinya bergetar dan bertanya – tanya.
Sesampai disana, ia langsung mencari sang tukang sol yang disebut Malaikat dalam mimpinya. Hampir semua tukang sol sepatu ia tanya, apakah ada tukang sol sepatu yang bernama Sa’id ibn Muhafah.
“Ada, di tepi kota” jawab salah seorang tukang sol sepatu sambil menunjuk arahnya.
Sampai disana ia mendapati seorang tukang sol sepatu yang berpakaian amat lusuh, “Benarkah anda bernama Sa’id ibn Muhafah ?” tanya ibn al Mubarak.
“Betul, siapakah tuan ?”
“Aku Abdullah ibn al Mubarak”
Sa’id pun terharu, “Tuan adalah Ulama’ terkenal, ada apa gerangan mendatangi saya ?”
Sejenak, Ulama’ itupun kebingungan, darimana ia akan memulai pertanyaanya. Akhirnya iapun menceritakan perihal mimpinya.
“Saya hendak tahu, adakah sesuatu yang telah anda perbuat, sehingga anda berhak mendapatkan pahala haji mabrur, dan membuat mabrur ibadah haji para jama’ah yang lain ?”
“Wah saya sendiri tidak tahu”
“Coba ceritakan bagaimana kehidupan anda selama ini”
Maka Sa’id ibn Muhafah pun bercerita, “Setiap tahun, setiap musim haji, aku selalu mendengar suara talbiyah : ‘Labbaika Allahumma labbaika. Labbaika laa syariika laka labbaika. Innal hamda wanni’mata laka wal mulka. laa syariika laka’ dan, setiap kali aku mendengar talbiyah itu, aku selalu menangis ‘ya Allah aku rindu Makkah. ya Allah aku merindu Ka’bah. Ijinkan aku datang, ijinkan aku datang ya Allah’ oleh karena itu, sejak puluhan tahun yang lalu. Setiap hari saya menyisihkan uang dari hasil kerja saya sebagai tukang sol sepatu. Sedikit demi sedikit saya kumpulkan, hingga akhirnya pada tahun ini, saya memiliki 350 dirham, cukup untuk saya berhaji, saya sudah siap berhaji”
“Tapi anda batal berangkat haji”
“Benar”
“Apa yang terjadi ?”
“Ketika itu, Istri saya hamil, dan mengidam. Waktu saya hendak berangkat, saat itu dia ngidam berat”
“Suamiku, menciumkah engkau bau masakan yang nikmat ini ?”
“Iya, sayang”
“Cobalah kau cari, siapakah yang masak sehingga baunya begitu nikmat. Mintalah sedikit untukku”
“Ustadz, kemudian sayapun mencari sumber bau masakan itu. Ternyata berasal dari gubug yang hampir runtuh. Disitu ada seorang janda dan enam anaknya. Saya mengatakan kepadanya bahwa istri saya ingin masakan yang ia masak, meskipun sedikit. Janda itu diam saja memandang saya, sehingga saya mengulangi perkataan saya”
Akhirnya dengan perlahan ia mengatakan, “tidak boleh, Tuan”
“Dijual berapapun akan saya beli”
“Makanan itu tidak dijual, Tuan” katanya sambil berlinang mata.
“Kenapa ?”
Sambil menangis, janda itu menjawab, “Daging ini halal untuk kami dan haram untuk Tuan”
Dalam hati saya, “Bagaimana ada makanan yang halal untuk dia, tetapi haram untuk saya, padahal kita sama-sama muslim ?” Karena itu saya mendesaknya lagi “Kenapa ?”
“Sudah beberapa hari ini kami tidak makan. Di rumah sama sekali tak ada makanan. Hari ini kami melihat keledai mati, lalu kami ambil sebagian dagingnya untuk kami masak, dan kami makan” Sesenggukan janda itu menjelaskan.
“Bagi kami daging ini adalah halal, karena andai kami tak memakannya kami akan mati kelaparan. Namun bagi Tuan, daging ini haram”
Mendengar ucapan tersebut, saya menangis, kemudian kembali pulang. Aku ceritakan perihal kejadian itu pada istriku, iapun menangis. Hingga akhirnya, kami memasak makanan dan mendatangi rumah janda tersebut.

“Ini masakan untukmu” 
Uang peruntukan Haji sebesar 350 dirham pun saya berikan pada mereka. “Pakailah uang ini untukmu sekeluarga. Gunakanlah untuk usaha, agar engkau tidak kelaparan lagi”
Ya Allah … disinilah Hajiku
Ya Allah … disinilah Makkahku
Mendengar cerita tersebut, Abdullah al Mubarak pun tak bisa menahan air matanya.
———- ———- 



Sumber http://alkisaah.blogspot.com

Kendaraan Seorang Bijak

 Matahari di padang pasir terasa membakar Kendaraan Seorang Bijak

Matahari di padang pasir terasa membakar. Hanya sesekali angin bertiup, menerbangkan debu-debu yang memerihkan mata. Membuat seorang pemuda kerepotan mengarungi samudera pasir yang membentang luas. Namun, hatinya sedikit tenang. Unta yang di tungganginya masih muda dan kuat. Ia berharap kendaraannya ini sanggup untuk menempuh perjalanan yang jauh. Karena masih ada separuh perjalanan lagi yang harus ditempuh Sang Pemuda.

“Mudah – mudahan aku selamat sampai Makkah,” katanya penuh harap. “Dan, segera melihat Baitullah yang selama ini aku rindukan.”

Panggilan rukun Islam kelima itulah yang telah membulatkan tekadnya mengarungi padang pasir yang terik.

Di tengah perjalanan, tiba – tiba Pemuda itu menatap tajam ke arah seseorang yang tengah berjalan sendirian di padang pasir.

‘Kenapa orang itu berjalan sendiri di tempat seperti ini ?’ tanya pemuda itu dalam hati. Sungguh berbahaya.

Pemuda tersebut menghentikan untanya di dekat orang itu. Ternyata, ia adalah seorang lelaki tua. Berjalan terseok – seok di bawah terik matahari. Lalu, Pemuda itu segera turun dari kendaraannya dan menghampiri.

“Wahai Bapak Tua, Bapak mau pergi ke mana ?” tanyanya ingin tahu.

“In syaa Allah, aku akan ke Baitullah,” jawab orang tua itu dengan tenang.

“Benarkah ?!” Pemuda itu terperanjat. Apa orang tua itu sudah tidak waras ? Ke Baitullah dengan berjalan kaki ?

“Betul Nak, aku akan melaksanakan ibadah haji,” kata orang tua itu meyakinkan.

“Maa sya Allah, Baitullah itu jauh sekali dari sini. Bagaimana kalau Bapak tersesat atau mati kelaparan ? Lagi pula, semua orang yang kesana harus naik kendaraan. Kalau tidak naik unta, bisa naik kuda. Kalau berjalan kaki seperti Bapak, kapan Bapak bisa sampai ke sana ?” Pemuda itu tercenung, merasa takjub dengan Bapak Tua yang ditemuinya.

Ia yang menunggang unta dan membawa perbekalan saja, masih merasa khawatir selama dalam perjalanan yang begitu jauh dan berbahaya. Siapapun tak akan sanggup menempuh perjalanan sejauh itu dengan berjalan kaki. Apa ia tidak salah bicara ? Atau memang orang tua itu sudah terganggu ingatannya ?

“Aku juga berkendaraan,” kata Bapak Tua itu mengejutkan.

Si Pemuda yakin kalau dari kejauhan tadi, ia melihat orang tua itu berjalan sendirian tanpa kendaraan apa pun. Tapi, Bapak Tua itu malah mengatakan dirinya memakai kendaraan.

Orang ini benar-benar sudah tidak waras. Ia merasa memakai kendaraan, padahal aku lihat ia berjalan kaki … pikir si Pemuda geli.

“Apa Bapak yakin kalau Bapak memakai kendaraan ?” tanya Sang Pemuda itu menahan senyumnya.

“Kau tidak melihat kendaraanku ?” orang tua itu malah mengajukan pertanyaan yang membingungkan. Si Pemuda, kini tak dapat lagi menyembunyikan kegeliannya.

“Kalau begitu, apa kendaraan yang Bapak pakai ?” tanyanya sambil tersenyum.

Orang tua itu termenung beberapa saat. Pandangannya menyapu padang pasir yang luas. Dengan sabar, si Pemuda menunggu jawaban yang akan keluar dari mulut orang tua itu. Akankah ia mampu menjawab pertanyaan tadi ?

“Kalau aku melewati jalan yang mudah, lurus, dan datar, kugunakan kendaraan bernama Syukur. Jika aku melewati jalan yang sulit dan mendaki, kugunakan kendaraan bernama Sabar,” jawab orang tua itu tenang.

Si Pemuda ternganga dan tak berkedip mendengar kata-kata orang tua itu. Tak sabar, pemuda itu ingin segera mendengar kalimat selanjutnya dari lelaki tua tersebut.

“Jika takdir menimpa dan aku tidak sampai ke tujuan, kugunakan kendaraan Ridha. Kalau aku tersesat atau menemui jalan buntu, kugunakan kendaraan Tawakkal. Itulah kendaraanku menuju Baitullah,” kata Bapak Tua itu melanjutkan.

Mendengar kata-kata tersebut, si Pemuda merasa terpesona. Seolah melihat untaian mutiara yang memancar indah. Menyejukkan hati yang sedang gelisah, cemas, dan gundah. Perkataan orang tua itu amat meresap ke dalam jiwa anak muda tersebut.

“Maukah Bapak naik kendaraanku ? Kita dapat pergi ke Baitullah bersama-sama,” ajak si Pemuda dengan sopan. Ia berharap akan mendengarkan untaian-untaian kalimat mutiara yang menyejukkan jiwa dari orang tua itu.

“Terima kasih Nak, Allah sudah menyediakan kendaraan untukku. Aku tak boleh menyia-nyiakannya. Dengan ikut menunggang kendaraanmu, aku akan menjadi orang yang selamanya bergantung kepadamu,” sahut orang tua itu dengan bijak, seraya melanjutkan perjalanannya.

Ternyata, orang tua itu adalah Ibrahim bin Adham, seorang ulama yang terkenal dengan kebijaksanaannya.

Refleksi Hikmah :
Untuk menempuh perjalanan kehidupan yang kita lalui ini. Bukan mobil mewah yang kita butuhkan sebagai kendaraan kita. Bukan pula harta melimpah yang kita butuhkan untuk bekal mengarungi kehidupan ini.
Cukup hati yang lapang, yang dapat menampung segala kemungkinan keadaan. Menyediakan bahan bakar Syukur, Sabar, Ridha dan Tawakkal. Hidup akan terasa lebih indah jika merasa bahagia.
———- ———-


Sumber http://alkisaah.blogspot.com

Nasihat di Kala Sunyi dan Sendiri

 Sebab nasihat di tengah khalayak terasa hinaan yang membuat hatiku pedih dan koyak Nasihat di Kala Sunyi dan Sendiri

Pernah bersya’ir Asy Syafi’i,

‘Nasihati aku kala sunyi dan sendiri;
jangan di kala ramai dan banyak saksi.
Sebab nasihat di tengah khalayak terasa hinaan yang membuat hatiku pedih dan koyak,
maka maafkan jika aku berontak’

Adalah Imam Ahmad, agung dalam mengamalkannya. Inilah yang dikisahkan Harun ibn Abdillah Al Baghdadi :

Di satu larut malam pintuku diketuk orang. Aku bertanya, “Siapa ?” Suara di luar lirih menjawab, “Ahmad !” Kuselidik, “Ahmad yang mana ?” Nyaris berbisik kudengar, “Ibnu Hanbal” Subhanallah, itu Guruku !

Kubukakan pintu, dan beliau pun masuk dengan langkah berjingkat, kusilakan duduk, maka beliau menempah hati-hati agar kursi tak berderit.

Kutanya, “Ada urusan sangat pentingkah sehingga engkau duhai Guru, berkenan mengunjungiku di malam selarut ini ?” Beliau tersenyum.

“Maafkan aku duhai Harun” ujar beliau lembut dan pelan, “Aku terkenang bahwa kau biasa masih terjaga meneliti hadits di waktu semacam ini. Kuberanikan untuk datang karena ada yang mengganjal di hatiku sejak siang tadi” Aku terperangah, “Apakah hal itu tentang diriku ?” Beliau mengangguk.

“Jangan ragu” ujarku. “Sampaikanlah wahai Guru, ini aku mendengarkanmu”

“Maaf ya Harun” ujar beliau, “Tadi siang kulihat engkau sedang mengajar murid-muridmu. Kau bacakan hadits untuk mereka catat. Kala itu mereka tersengat terik mentari, sedangkan dirimu teduh ternaungi bayangan pepohonan. Lain kali jangan begitu duhai Harun, duduklah dalam keadaan yang sama, sebagaimana muridmu duduk”

Aku tercekat, tak sanggup menjawab. Lalu beliau berbisik lagi, pamit undur diri. Kemudian melangkah berjingkat, menutup pintu hati-hati. Masya Allah, inilah Guruku yang mulia, Ahmad ibn Hanbal. Akhlak indahnya sangat terjaga dalam memberi nasihat dan meluruskan khilafku. Beliau bisa saja menegurku di depan para murid, toh Beliau Guruku yang berhak untuk itu. Tetapi tak dilakukannya demi menjaga wibawaku. Beliau bisa saja datang sore, bakda Maghrib atau Isya’ yang mudah baginya. Itu pun tak dilakukannya, demi menjaga rahasia nasihatnya.

Beliau sangat hafal kebiasaanku terjaga di larut malam. Beliau datang mengendap dan berjingkat; bicaranya lembut dan nyaris berbisik. Semua beliau lakukan agar keluargaku tak tahu; agar aku yang adalah ayah dan suami tetap terjaga sebagai imam dan teladan di hati mereka. Maka termuliakanlah Guruku sang pemberi nasihat, yang adab tingginya dalam menasehati menjadikan hatiku menerima dengan ridha dan cinta.

Sumber : Buku ‘Menyimak Kicau Merajut Makna’ (Salim A. Fillah)

———- ———-


Sumber http://alkisaah.blogspot.com

Ibnu Hajar Al Asqalany vs Yahudi

Mari takjubi kisah para Shalihin. Pada ilmu & daya ruhani mereka terkandung cahaya Allah. Maka bahkan ejekannya pun jadi jalan hidayah.

Suatu ketika Ibn Hajar Al ‘Asqalani; beliau adalah penulis Fathul Bari (Syarah Shahih al-Bukhari) yang termasyhur itu, melintas dengan kereta mewahnya. Beliau dicegat oleh seorang Yahudi penjual minyak ter. Penampilan keduanya bertolak belakang. Ibnu Hajar tampak anggun & megah. Sementara itu, Yahudi penjual minyak ter itu dekil, compang-camping, berbau busuk, & kumal.

Dicegatnya Ibnu Hajar lalu Yahudi itu bertanya, “Nabimu mengatakan bahwa dunia adalah penjara bagi orang mukmin & surganya orang kafir (HR Muslim), benarkah demikian ?”, ujarnya.

“Betul, demikianlah sabda beliau SAW”, sahut Ibnu Hajar tersenyum.

“Kalau begitu akulah mukmin & kamulah kafir !”, hardik si Yahudi.

“Oh”, sahut Ibnu Hajar sembari tersenyum lagi, “Mengapa bisa demikian hai Ahli Kitab yang malang ?”

Jawab si Yahudi, “Coba lihat, aku hidup dalam susah dan nestapa sebagai penjual minyak ter, maka aku merasa terpenjara, maka aku mukmin. Sementara kamu, hidup mewah dan megah, maka kamu seperti di surga, sehingga sesuai hadits tadi, kamu adalah orang kafir.”

Ibnu Hajar menyimak. Setelah tersenyum lagi, beliau berkata, “Sudikah jika aku jelaskan padamu makna yang benar dari hadits itu duhai cucu Israil ?”

“Dunia adalah penjara bagi seorang mukmin seperti diriku, sebab segala kemewahan yang kunikmati sekarang, tak ada apa-apanya dibandingkan dengan apa yang Allah sediakan untuk kami di surga. Dalam kemewahan ini, kami menanti nikmat yang jauh lebih berlipat. Maka hakikatnya, dunia ini adalah penjara buat kami.”

“Sementara kau, di dunia memang payah & menderita, tapi semua nestapamu itu tiada artinya dibanding dengan apa yang Allah sediakan bagimu kelak di neraka. Duniamu yang menyiksa itu, sungguh adalah surga tempatmu masih bisa tersenyum, makan, & minum; menanti siksa abadi kelak di neraka sejati.” Yahudi penjual ter itu ternganga.

Lalu dengan mata berkaca-kaca, dia berkata dengan lirih, “Asyhadu anlaa Ilaaha illallaah, wa asyhadu anna Muhammmadan Rasulallah..”

Segera, tanpa memedulikan pakaiannya yang mungkin terkotori, Ibnu Hajar memeluk si penjual minyak ter yang kini telah berislam.

“Selamat datang ! Selamat datang saudaraku ! Selamat atas hidayah Allah padamu, segala pujian hanya milikNya !” Mereka berangkulan erat.

Hari itu, si penjual minyak ter dibawa Ibnu Hajar ke rumahnya, dididik, & akhirnya menjadi salah seorang muridnya yang utama.

Begitulah kekuatan ilmu & ruhani yang tersambung ke langit suci. Orang Shalih itu mengilhami, bahkan ‘ejekan’nya pun, jadi jalan hidayah. 🙂 .

———- ———-


Sumber http://alkisaah.blogspot.com

Wara’,, Menguntungkan

Abdullah ibn Al Mubarak suatu hari berkata, “Aku akan mengerjakan perbuatan yang akan membuatku mulia.”

Ia lalu menuntut ilmu hingga menjadi seorang yang ‘alim. Waktu ia memasuki kota Madinah, masyarakat berbondong-bondong menyambutnya hingga hampir-hampir saja mereka saling bunuh membunuh karena berdesak-desakan.

Ibu suri raja yang kebetulan menyaksikan kejadian itu bertanya, “Siapakah orang yang datang ke kota kita ini ?”

“Ia adalah salah seorang ‘Ulama Islam,” jawab pelayannya.

Ia kemudian berkata kepada anaknya, “Perhatikanlah, bagaimana masyarakat berbondong-bondong mendatanginya. Raja yang satu ini tidak seperti kamu. Kamu, jika menginginkan sesuatu, harus memerintah seseorang untuk melakukannya. Tetapi, mereka mendatanginya dengan sukarela.”

Abdullah ibn Al Mubarak sesungguhnya adalah anak seorang budak berkulit hitam bernama Mubarak. Budak ini betisnya kecil, bibirnya tebal dan telapak kakinya pecah-pecah. Walaupun demikian, ia adalah seorang yang sangat wara`. Kewara’annya ini akhirnya membuahkan anak yang shaleh. Mubarak bekerja sebagai penjaga kebun. Suatu hari tuannya datang ke kebun.

“Mubarak, petikkan aku anggur yang manis,” perintah tuannya.

Mubarak pergi sebentar lalu kembali membawa anggur dan menyerahkannya kepada tuannya.

“Mubarak, anggur ini masam rasanya, tolong carikan yang manis !” kata tuannya setelah memakan anggur itu.

Mubarak segera pergi, tak lama kemudian ia kembali dengan anggur lain. Anggur itu dimakan oleh tuannya.

“Bagaimana kamu ini, aku suruh petik anggur yang manis, tapi lagi-lagi kamu memberiku anggur masam, padahal kamu telah dua tahun tinggal di kebun ini,” tegur tuannya dengan perasaan kesal.

“Tuanku, aku tidak bisa membedakan anggur yang manis dengan yang masam, karena kamu mempekerjakan aku di kebun ini hanya sebagai penjaga. Sejak tinggal di sini aku belum pernah merasakan sebutir anggur pun, bagaimana mungkin aku dapat membedakan yang manis dari yang masam ?” jawabnya.

Tuannya tertegun mendengar jawaban Mubarak. Ia seakan-akan memikirkan sesuatu. Kemudian pulanglah ia ke rumah. Pemilik kebun itu memiliki seorang anak gadis. Banyak pedagang kaya telah melamar anak gadisnya.

Sesampainya dirumah, ia berkata kepada istrinya, “Aku telah menemukan calon suami anak kita.”

“Siapa dia ?” tanya istrinya.

“Mubarak, budak yang menjaga kebun.”

“Bagaimana kamu ini ?! Masa puteri kita hendak kamu nikahkan dengan seorang budak hitam yang tebal bibirnya. Kalau pun kita rela, belum tentu anak kita sudi menikah dengan budak itu.”

“Coba saja sampaikan maksudku ini kepadanya, aku lihat budak itu sangat wara’ dan takut kepada Allah.”

Kemudian sang istri pergi menemui anak gadisnya, “Ayahmu akan menikahkanmu dengan seorang budak bernama Mubarak. Aku datang untuk meminta persetujuanmu.”

“Ibu, jika kalian berdua telah setuju, aku pun setuju. Siapakah yang mampu memperhatikanku lebih tulus daripada kedua orang tuaku ? Lalu mengapa aku harus tidak setuju ?”

Sang ayah yang kaya raya itu kemudian menikahkan anak gadisnya dengan Mubarak. Dari pernikahan ini, lahirlah Abdullah bin Mubarak.

Jangan sekali-kali berpikir bahwa orang yang sempurna adalah orang yang mengenakan imamah terbaik dan pakaian mewah. Akan tetapi orang yang sempurna adalah yang menjauhi maksiat, beramal shaleh, dan menuntut ilmu dengan penuh adab, karena ilmu akan menuntun pemiliknya mencapai kemuliaan.

———- ———-


Sumber http://alkisaah.blogspot.com

Ketawadhu’an Abu Hanifah

Imam Abu Hanifah pernah berkata, “Aku belajar lima masalah dalam ibadah haji dari seorang Pencukur rambut.”

Berikut ini kisahnya :

Setelah aku menyelesaikan manasik haji, aku pergi ke tukang cukur untuk mencukur rambutku.

Aku bertanya kepada tukang cukur, “Berapa ongkos mencukur rambut ?”

Tukang cukur itu menjawab, “Ini adalah ibadah dan ibadah tidak mensyaratkan apa pun. Duduklah !” Aku pun duduk dan membelakangi kiblat.

Dia berkata, “Hadapkan wajahmu ke arah kiblat !”

Ku berikan kepalaku sebelah kiri untuk dicukur terlebih dahulu. Dia kembali berkata, “Putar kepalamu ke arah kanan.”

Maka aku pun memutar kepalaku ke arah kanan. Dia langsung mencukur rambutku dan aku diam saja. Dia berkata lagi, “Bacalah takbir (Allahu akbar) !”

Aku pun terus membaca takbir sampai dia selesai mencukur. Ketika aku berdiri dia berkata, “Mau ke mana kamu ?”

Aku menjawab, “Aku ingin meneruskan perjalananku”

Dia berkata, “Shalatlah dua raka’at dulu, setelah itu pergilah”

Aku sangat terkejut dengan perkataan tukang cukur itu dari awal dia mencukur rambutku, lalu aku bertanya kepadanya, ”Dari mana kamu belajar semua ini ?”

Dia berkata, “Aku pernah melihat ‘Atha’ bin Abi Rabbah melakukan ini”

Di antara ketawadhu’an Imam Abu Hanifah yang lain adalah ketika Abu Hanifah melewati anak-anak yang sedang bermain di jalan, dia berkata kepada salah seorang dari mereka, “Wahai anakku, hati-hati, nanti jatuh ke tanah”

Anak-anak itu membalas, “Engkaulah yang seharusnya berhati-hati, agar jangan sampai jatuh, karena terperosoknya orang ‘alim adalah terperosoknya alam.” (Kesalahannya menyebabkan kesalahan orang-orang).

Abu Hanifah berkata, “Demi Allah, sejak saat itu aku tidak mengeluarkan fatwa, kecuali setelah berdiskusi dengan murid-muridku selama 40 hari.”

———- ———-


Sumber http://alkisaah.blogspot.com

Kematian Seorang Harun Ar Rasyid

Suatu hari Harun Ar Rasyid pergi berburu. Di tengah perjalanan ia bertemu dengan seseorang yang bernama Buhlul.
Harun berkata, “Berilah aku nasehat, wahai Buhlul !”.
Lalu lelaki itu berkata, “Wahai Amirul Mukminin, dimanakah bapak dan kakek-kakekmu, dari sejak Rasulullah hingga bapakmu ?”.
Harun menjawab, “Semuanya telah mati”.
“Dimana istana mereka ?” tanya Buhlul.
“Itu istana mereka” jawab Harun.
“Lalu dimana kuburan mereka ?”.
“Ini. Disini kuburan mereka” jawab Harun.
Buhlul berkata, “Disitu istana mereka, dan disini kuburan mereka. Bukankah istana itu sedikit pun tidak memberi manfaat bagi mereka, sekarang ?”.
“Kamu benar. Tambahlah nasehatmu, wahai Buhlul !” kata Harun.
“Wahai Amirul Mukminin, engkau diberi kekuasaan atas perbendaharaan Kisra dan diberi umur panjang. Lalu apa yang bisa kau perbuat ? Bukankah kuburan adalah terminal akhir bagi setiap yang hidup, kemudian engkau akan disidang tentang berbagai maalah ?”.
“Tentu”, kata Harun.
Setelah itu Harun pulang dan jatuh sakit. Setelah beberapa hari menderita sakit, sampailah ajal menjemputnya. Pada detik-detik terakhir kehidupannya, ia berteriak kepada punggawanya, “Kumpulkanlah semua tentaraku”. Maka datanglah mereka ke hadapan harun, lengkap dengan pedang dan perisai. Begitu banyak, sehingga tak ada yang tahu jumlahnya selain Allah. Seluruhnya berada di bawah komando Harun. Melihat mereka, Harun menangis dan berkata, “Wahai Dzat yang tidak pernah kehilangan kekuasaan, kasihanilah hamba-Mu yang telah kehilangan kekuasaan ini”. Tangisan itu tak berhenti hingga ajal mencabut nyawanya.
Refleksi Hikmah :
Itulah sepenggal kisah, yang dengan kisah di atas Penulis hendak menyadarkan kepada para pembaca, bahwa kematian adalah sebuah kepastian bagi setiap. Tak ada yang bisa menolak, bahkan raja yang punya banyak bala tentara sekalipun. Sang Khalifah yang memiliki kekuasaan yang sangat luas itu, ternyata akhirnya tinggal di lahat yang sempit. Tak ada anak, tak ada istri, tak ada menteri, tak ada kawan minum, tak ada kasur, tak ada makanan. Harta dan kekuasaannya tak berguna lagi baginya.
Sumber : Buku, Malam Pertama di Alam Kubur
———- ———-


Sumber http://alkisaah.blogspot.com