Kakakku Hebat

Wajah tampannya tersembunyi di bawah topi yang dikenakannya. Bersama Kakak perempuan kandungnya, dia bertanding. Dia tidak membanggakan diri, namun tampak tenang dan penuh percaya diri. Pendiam dan juga tak banyak berkata-kata.

Pada saat tantangan pertama, dengan tenang, tegas, namun motivatif, dia menyampaikan arahan-arahan pada Kakaknya. Meniti ruang dalam silinder bolong-bolong di ketinggian sambil mengambil dan mengangsurkan bendera memang cukup menyulitkan. Kakaknya sedikit panik di awal-awal pertandingan, namun arahan-arahannya membuat si Kakak menjadi lebih tenang mengikuti petunjuk-petunjuknya dan akhirnya mereka berdua mampu menyelesaikan tantangan itu dengan mudah. Sementara yang lainnya, tak ada satu pun dari mereka yang dapat menyelesaikannya sebaik mereka berdua. Ketika diberikan ucapan selamat atas kesuksesan mereka, dia hanya tersenyum dan menyatakan,

”Aku bangga pada Kakakku. Dia hebat !”

Dan dengan spontan Kakaknya menjawab, ”Ya, kami tim yang hebat,”

Sebuah jawaban yang penuh percaya diri, dan tidak menyombongkan diri. Si Adik tetap rendah hati dan mengatakan bahwa Kakaknya lah yang hebat, meskipun jelas-jelas nampak bahwa tadi dialah sebenarnya yang memimpin. Sehingga mereka dapat memenangkan sesi pertama pertandingan itu.

Hal yang sama selalu terjadi pada sesi-sesi pertandingan berikutnya. Mereka selalu memimpin dalam perolehan angka. Dan setiap kali si Adik menjadi pemimpin bagi Kakaknya, dan setiap kali itu pulalah, dengan bangga dan bahagia sang Adik akan berkata,

“Kakakku hebat. Aku bangga padanya,”

Dan sang Kakak pun akan melakukan hal yang sama, “Adikku hebat. Kami tim yang kompak sekali,”

“Apakah kalian pernah bertengkar ?” tanya sang pemandu acara.

“Nyaris tidak pernah, kami selalu kompak,” jawab mereka serempak.

Sebagaimana permainan pada umumnya, untuk dapat mengalahkan lawan biasanya para peserta melalukan perang mental dengan cara mengeluarkan teriakan ejekan, memprovokasi atau apapun yang dapat merusak konsentrasi lawannya. Namun pemuda ini tidak melakukannya. Dia dan Kakaknya selalu bersikap manis sepanjang pertandingan. Dan tidak sama sekali melontarkan agitasi ataupun celaan kepada lawan-lawannya. Tetapi, mereka selalu menunjukkan kemampuan dan kepercayaan terhadap diri mereka sendiri. Dan itu sungguh luar biasa. Ketika mereka berhasil menyelesaikan pertandingan dengan sukses dan mengetahui bahwa hasil mereka jauh lebih bagus dari para peserta lainnya, mereka tidak lantas berbangga diri, namun dengan senyum manis, mereka akan berkata,

“Kami bersyukur bahwa kami adalah tim yang hebat,”

Bahkan pada saat-saat terakhir, di mana para panitia akan mengumumkan siapa pemenang dari lomba tersebut, sang Adik terus menerus menundukkan kepala dan menaruhnya di antara kedua lutut, mereka sangat cemas akan kemungkinan perolehan angka yang telah mereka dapat akan dapat disusul oleh lawannya. Tetapi, ketika sudah diumumkan bahwa merekalah pemenangnya, dia masih tetap menunduk saja. Ia baru bangkit ketika ditepuk, dan kemudian memeluk Kakaknya kuat-kuat sambil menangis. Tak ada teriakan. Tak ada pekik kemenangan. Hanya senyum tipis berurai air mata dan bisikan,

“Kakakku hebat. Aku bangga padanya!”

****

Menyaksikan adegan demi adegan di atas membuat kita bertanya-tanya, sebenarnya budaya dan pendidikan macam apa yang telah dibangun oleh orang tua mereka pada mereka saat mereka masih kecil ? Tidak mudah menjadikan dua orang bersaudara sekompak itu, dan satu sama lain saling mendukung bahkan menyatakan kebanggaannya pada saudaranya.

Malah, yang banyak kita temui di sekeliling kita adalah Kakak beradik yang saling mencaci, menyalahkan jika kalah, dan saling mengunggulkan diri sendiri ketika mereka meraih kemenangan dan keberhasilan. Jarang sekali ada yang menunjukkan sikap rendah hati dan memberikan motivasi dan pujian untuk saudaranya.

Menyaksikan permainan mereka, kita merasa mendapat contoh yang sangat indah tentang persaudaran dua Kakak beradik. Bersikap positif dan saling mendukung di antara mereka. Dan semua itu, pasti lah tidak terlepas dari pendidikan yang ditekankan oleh orang tuanya.

———- ———-


Sumber http://alkisaah.blogspot.com