Tetap Senang Dengan Sifat Perfeksionis? Kau Bisa!

“Orang-orang menyampaikan bahwa menjadi perfeksionis ialah sebuah kesalahan. Namun, kurasa itulah yang senantiasa mendorongku.” – Paula Garces

Sifat perfeksionis dinilai “keren” bagi sebagian orang. Memiliki standar yang tinggi dan perjuangan yang keras untuk mencapai kesempurnaan menunjukkan moral kerja yang baik dan kuatnya abjad seseroang. Ini juga mendorong seseorang untuk mencapai puncak level performansi dan mendapatkan sesuatu yang tidak gampang diraih orang lain.

Namun, di sisi lain, sifat perfeksionis melibatkan kecenderungan untuk menetapkan standar yang terlalu tinggi sampai tidak sanggup diraih. Ketika tidak sanggup mencapai sasaran yang diinginkan, seorang perfeksionis akan terjebak dalam perasaan menyalahkan diri sendiri, merasa payah, dan tidak berharga. Ini sanggup menjadi sumber depresi, kecemasan, anoreksia (gangguan makan), sampai rusaknya hubungan.

Pada suatu tingkatan, menjadi perfeksionis memang merupakan suatu hal yang baik sebab sanggup menjadi menjadikan motivasi dan semangat. Akan tetapi, pada tingkatan yang lebih, sanggup mengganggu kesehatan mental, memperburuk hasil pekerjaannya, sampai merusak korelasi dengan relasinya. Lalu, bagaimana caranya semoga sanggup menjadi seorang perfeksionis yang sehat mental dan bahagia? Yuk, simak tips berikut ini!

Pahami sifat perfeksionismu dan pengaruhnya

Jika Anda memang seorang perfeksionis, sebaiknya Anda menyadari bahwa sifat tersebut memang ada pada diri Anda. Dengan begitu, akan lebih gampang bagi Anda untuk menilai seberapa besar imbas yang ditimbulkan pada kehidupan sehari-hari dan bagi orang-orang di sekitar Anda. Memperkirakan imbas dan dampak negatif yang sanggup muncul sanggup membantu Anda untuk mengontrol kadar sifat perfeksionis di tahap wajar.

Cobalah menurunkan standar

Seorang perfeksionis seringkali memasang sasaran yang terlalu tinggi sampai berada di luar jangkauannya. Cobalah sedikit menurunkan standar menjadi lebih realistis. Misalnya, Anda mengubah sasaran untuk mencoba meraih 80% daripada 100%. Menurunkan standar bukan berarti menurunkan kualitas. Bisa jadi 80% bagi Anda ialah 100% bagi orang lain.

Terima kesalahan!

Menerima kesalahan memang bukan suatu yang mudah. Bagi kebanyakan orang, kesalahan ialah suatu hal yang tidak diinginkan dan tidak sanggup diterima. Akan tetapi, sadarilah bahwa kesalahan ialah suatu hal yang tidak sanggup dihindari. Anda sanggup menciptakan kesalahan tersebut sebagai pelajaran dan penilaian untuk menjadi lebih baik ke depannya!

Jangan menilai dirimu dari hasil dan penghargaan

Nilai seseorang tidak hanya dilihat dari sejumlah prestasi dan penghargaan yang beliau raih. Setiap orang mempunyai kelebihan dan kualitas yang berbeda-beda, di bidang yang berbeda-beda pula. Begitu pula dengan Anda! Cobalah mendapatkan dan mengakui kelebihan Anda yang mungkin berbeda dari orang lain.

Perlakukan dirimu dengan baik

Bukankah Anda akan memperlakukan orang yang Anda sayangi dengan Istimewa dan penuh kasih sayang? Perlakukan diri Anda menyerupai itu pula! Anda pantas mendapatkannya, meskipun Anda melaksanakan kesalahan dan gagal meraih target. Dengan menghargai diri sendiri, Anda akan lebih aktual dalam memperbaiki kesalahan dan lebih gampang untuk melangkah maju. Sudah siap untuk menjadi seorang perfeksionis bahagia? Selamat mencoba!


Sumber data tulisan

https://www.anxietybc.com/sites/default/files/Perfectionism.pdf

https://psychcentral.com/blog/archives/2011/05/31/10-steps-to-conquer-perfectionism-2/

Sumber gambar: http://nymag.com/scienceofus/2016/12/in-2017-pursue-meaning-instead-of-happiness.html

 

 

Let others know the importance of mental health !

Perfeksionis Merupakan Ciri-Ciri Gangguan Obsesif Kompulsif, Benarkah?

“Jangan takut akan kesempurnaan, alasannya ialah tidak seorangun sanggup mendapatkannya.” – Salvador Dali

Sifat perfeksionis dalam pandangan psikologi merupakan akidah pada diri seseorang bahwa kesempurnaan sanggup dan harus dicapai. Banyak spekulasi yang menyampaikan bahwa sifat perfeksionis merupakan ciri-ciri seseorang mengalami gangguan obsessive compulsive disorder (OCD). Apakah hal tersebut benar? Ternyata tidak, meskipun keduanya sama-sama mengandung unsur kompulsif. Berikut ini beberapa penjelasannya mengeni perbedaan antara keduanya!

1. Orang yang perfeksionis umumnya ialah pekerja keras, sedangkan OCD ialah gangguan mental di mana salah satu simtomnya ialah seseorang selalu merasa harus menyidik suatu hal terus menerus dan melaksanakan rutinitas yang ketat.

2. Seseorang yang perfeksionis biasanya selalu mengikuti ‘aturan’. Selama individu tersebut menjalankan hukum tersebut maka tidak terjadi masalah. Akan tetapi, seseorang dengan OCD akan melaksanakan pengulangan sikap sampai sanggup menjadikan kelelahan secara fisik maupun mental.

3. Berdasarkan faktor penyebabnya, sifat perfeksionis biasanya sanggup muncul lantaran kesalahan pola asuh orang renta yang keras atau sering disebut dengan pola asuh otoriter. Orang renta dengan pola asuh ini biasanya memiliki impian yang tinggi pada anaknya semoga anakanya patuh dan tunduk serta menghargai perjuangan orang tuanya. Sedangkan seseorang dengan OCD biasanya disebabkan oleh faktor genetik atau bawaan.

4. Seseorang yang perfeksionis biasanya mengacu pada kerapian dan keteraturan. Akan tetapi, orang dengan OCD terkadang menciptakan dirinya sendiri terperangkap dalam ketidakteraturan lantaran sikap berulang-ulang yang dilakukan.

Demikianlah beberapa hal yang membedakan sifat perfeksionis dengan sikap gangguan obsesif kompulsif (OCD). Meskipun keduanya berbeda, akan tetapi perlu diwaspadai lantaran sifat perfeksionis juga sanggup menjadi pemicu seseorang mengalami gangguan OCD. Seperti yang dikatakan oleh Michael Mufson, MD, seorang psikiater dari Harvard University, bahwa perfeksionis merupakan satu set tanda-tanda yang terdapat pada gangguan obsesif kompulsif, meskipun keduanya berbeda.

Jadi, boleh saja kita bersikap disiplin dan keras pada diri sendiri. Akan tetapi, jangan jadikan hal tersebut sebagai pola yang mutlak. Tidak apa-apa melaksanakan kesalahan, yang penting kita sanggup mencar ilmu dari kesalahan tersebut!

Let others know the importance of mental health !

Perfeksionis: Baik Atau Buruk?

“Jika selalu menunggu segala sesuatunya tepat gres melaksanakan sesuatu, maka kita tidak akan memulai apapun” –Ivan Turgenev

Pernahkah Anda bertemu dengan orang yang perfeksionis? Atau mungkin Anda sendiri yaitu seorang perfeksionis? Orang yang perfeksionis itu seringkali sangat menyukai kerapian dan keteraturan. Maka dari itu, tak jarang mereka selalu mencegah dirinya menciptakan kesalahan (kebutuhan untuk menjadi sempurna). Misalnya, dikala menciptakan laporan dan mereka melihat terdapat kesalahan pengetikan (typo), maka mereka niscaya akan melaksanakan print ulang laporan tersebut biar tidak terdapat kesalahan dan kesudahannya rapi. Sifat ini seringkali menciptakan mereka menunda pekerjaan dan usang dalam menyelesaikannya.

Sebenarnya, Apa itu Perfeksionis?

Menurut Jennifer Kromberg, seorang psikolog dan terapis, perfeksionis yaitu dorongan yang terus-menerus dalam diri seseorang untuk mempunyai segala sesuatu yang berjalan dengan sempurna, contohnya dalam hal akademik dan kehidupan sehari-hari.

Ini loh, 5 Karakteristiknya!

  1. Anda orang yang sangat kompetitif hampir dalam semua hal.
  2. Kebanggaan yang Anda rasakan bersifat sementara, maka Anda perlu terus melaksanakan perjuangan yang lebih lagi dalam bekerja.
  3. Anda yakin kalau hasil kerja Anda sempurna, maka akan menghasilkan kedamaian dan ketenangan dalam diri (fokus pada hasil, bukan proses).
  4. Ketika Anda tidak melaksanakan sesuatu dengan sempurna, itu artinya Anda gagal (berpikir hitam-putih; benar-salah; berhasil-gagal).
  5. Anda meyakini bahwa orang akan menghargai dan mengagumi Anda hanya kalau Anda berhasil mencapai hasil tertinggi/sempurna dalam suatu tugas/pekerjaan.

Perfeksionis itu Baik atau Buruk, ya?

Di satu sisi, menjadi perfeksionis itu merupakan sesuatu yang baik alasannya sanggup menghasilkan kualitas kiprah yang sempurna. Akan tetapi, individu yang perfeksionis seringkali mengalami banyak sekali permasalahan secara psikologis. Misalnya, ekspektasi yang terlalu tinggi terhadap pasangan untuk menjadi sempurna, terkadang menciptakan pasangan merasa tertekan, sedangkan dirinya seringkali merasa kecewa dan marah. Dalam lingkungan pertemanan pun mereka seringkali menjadi kompetitif dan kaku.

Kebutuhan untuk selalu tepat ini juga seringkali menyebabkan mereka merasa cemas dan lelah sepanjang waktu alasannya selalu merasa bahwa pekerjaan mereka belum sempurna. Jika mereka tidak berhasil mencapai standar diri yang tinggi/sempurna tersebut, maka mereka akan menjadi kecewa terhadap diri sendiri.

Sebuah penelitian oleh Hewitt dan Flett mengungkapkan bahwa terdapat relasi antara perfeksionis dan problem kesehatan mental, yaitu depresi dan gangguan makan ibarat anorexia nervosa dan bulimia.

Bagaimana Cara Mengatasinya?

Berpikir lebih realistik:

“Tidak ada orang yang sempurna”; “Saya sudah melaksanakan hal terbaik yang saya bisa”; “Membuat kesalahan bukan berarti saya terbelakang atau gagal”.

Berpikir dari perspektif orang lain:

“Tidak meraih nilai A pada mata kuliah ini merupakan hal yang masuk akal bagi orang lain alasannya mata kuliah ini memang dikenal sangat sulit”.

Lihat secara citra besar:

“Apakah hal ini sangat berpengaruh?”; “Apa kemungkinan terburuk yang sanggup terjadi?”; “Jika hal terburuk tersebut terjadi, apakah saya masih sanggup melaluinya?”

Seseorang yang terlalu perfeksionis sanggup merasa cemas sepanjang waktu. Karena itu, terlalu perfeksionis sanggup berdampak jelek bagi kesehatan mental. Untuk mengatasinya, seorang perfeksionis sanggup mengurangi standarnya menjadi lebih realistis.

Mengurangi standar sendiri bukan berarti tidak mempunyai standar. Memiliki standar yang realistis sanggup membantu Anda untuk menghasilkan kualitas terbaik dalam banyak sekali aspek kehidupan, ibarat keluarga, pertemanan, dan kesehatan mental.


Sumber data tulisan:

Selanjutnya sanggup dibaca pada artikel “4 Difficulties of Being a Perfectionist” (https://www.psychologytoday.com/blog/inside-out/201311/4-difficulties-being-perfectionist)

Selanjutnya sanggup dibaca pada artikel “The Many Faces of Perfectionism” (http://www.apa.org/monitor/nov03/manyfaces.aspx)

Selanjutnya sanggup dibaca pada artikel “How to Overcome Perfectionism” (https://www.anxietybc.com/sites/default/files/Perfectionism.pdf)

Featured Image Credit:
tvtropes.org


Let others know the importance of mental health !

Sudah Saatnya Tak Lagi Memendam Persoalan Sendirian

“…ini merupakan hal yang penting untuk diingat bahwa kau tidak sendirian.” – Anonim

“Hari ini saya depresi banget nih.”
Dengerin lagu murung jadi bikin depresi.”

Mungkin kita sering mendengar atau membaca kalimat tersebut dari omongan atau status teman kita di media sosial. Seakan menganggap depresi sebagai sesuatu yang ‘enteng’ dan lumrah terjadi. Namun, di sisi lain, terkadang gangguan mental atau gangguan psikologi, ibarat depresi, masih menjadi sesuatu yang tabu untuk diperbincangkan. Sebab masih ada stigma negatif terhadap orang-orang yang mengalami depresi sehingga mereka jarang membuka diri mereka yang mengalami depresi.

Depresi merupakan gangguan psikologi yang paling umum terjadi tetapi sering tidak disadari oleh kebanyakan orang yang mengalaminya. Walau tidak jarang, banyak juga orang yang menduga dirinya mengalami depresi. Seperti yang telah diketahui, seringkali orang dengan depresi dianggap sering mengalami perasaan menyedihkan, padahal yang dialami orang dengan depresi lebih dari itu. Orang dengan depresi tidak hanya mengalami rasa murung tetapi juga kehilangan minat untuk melaksanakan banyak sekali aktivitas, juga sering merasa sendiri. Namun, bukan berarti orang yang mempunyai ciri-ciri tersebut termasuk orang yang mengalami depresi. (Baca juga: https://pijarpsikologi.org/depresi-apa-sih-ciri-cirinya/)

Seperti kebanyakan gangguan psikologi lainnya, orang dengan depresi juga sering dianggap sebelah mata dan ada stigma negatif tersendiri di masyarakat. Tidak heran kalau banyak orang yang tidak mengakui dirinya mengalami depresi. Sebab takut dicap negatif, takut disalahkan, dan banyak sekali ketakutan lainnya yang justru berpotensi ‘memperparah’ depresi yang mereka alami. Padahal orang dengan depresi hanya membutuhkan orang lain sebagai tempatnya bercerita. Namun, ketika orang dengan depresi mau membuka diri, orang lain justru tidak menyadari dirinya mengalami depresi bahkan menganggap remeh. Pada akhirnya, orang dengan depresi hanya menyimpan ‘depresinya’ sendiri, tanpa mau bercerita kepada orang lain.

Sebagian orang dengan depresi memakai banyak sekali media untuk mencurahkan kegundahan hatinya. Seperti menulis di media umum atau media lainnya, melukis, dan hal-hal lainnya ibarat yang pernah dilakukan Winston Churchill, seorang penulis yang juga politikus.

Selain Winston, ada juga seseorang yang selama enam bulan tidak ingin bercerita wacana dirinya yang mengalami depresi. Namun, dengan tidak menceritakan wacana dirinya kepada keluarga dan teman dekatnya, ia justru menjadi orang yang dingin. Sebab ia berpikir bahwa tidak seorang pun yang mempercayainya. Lalu ketika pikirannya semakin gelap, ia sadar bahwa dirinya harus speak up, bercerita kepada teman dekatnya wacana dirinya yang mengalami depresi. Alasan lainnya biar orang lain, terutama orang terdekat tahu bahwa dirinya sedang berhadapan dengan depresi.

Bagi orang dengan depresi, bercerita atau tidak bercerita kepada orang lain atau media lainnya mempunyai efek yang berbeda. Seperti dalam sebuah penelitian yang pernah dilakukan oleh salah satu universitas di Amerika Serikat menyebutkan bahwa ada berpuluh ribu foto bertagar depression di Instagram. Foto-foto tersebut menggambarkan perasaan dan pikiran orang dengan depresi, bahkan 41% di antaranya menerima komentar konkret yang mengatakan adanya santunan dari orang lain. Dari banyaknya foto yang terunggah di media umum mengatakan bahwa orang dengan depresi memang membutuhkan ‘tempat’ untuk bercerita. Namun, ibarat yang telah dijelaskan sebelumnya, orang dengan depresi takut dicap negatif oleh masyarakat, pun aib dengan kondisinya.

Dari paparan di atas sanggup disimpulkan bahwa orang dengan depresi harus menceritakan wacana dirinya kepada orang lain. Terkadang orang melaksanakan ini sanggup secara pribadi atau melalui sosial medianya. Selain untuk mencurahkan perasaannya, juga biar orang di sekitarnya lebih peka dengan keadaan dirinya. Hal ini juga dilakukan biar orang dengan depresi tahu dirinya tidak sendirian dan orang lain sanggup membantunya melawan depresi.

Harus disadari, kalau ada orang-orang dengan frekuensi postingan bernada murung yang cukup sering, sudah saatnya Anda peka dengan kondisinya. Coba dekati sehingga yang bersangkutan tidak merasa sendiri dan merasa ada yang masih peduli padanya. Hindari sikap berburuk sangka pada orang-orang yang sering menciptakan postingan murung di akun sosial media mereka. Mereka butuh kepekaan Anda untuk memahami bahwa mereka butuh orang lain namun tidak tahu kemana harus mencari.

Selalu ingat, setiap orang sedang memperjuangkan banyak hal dalam hidup mereka di luar sepengetahuan Anda. Hal terakhir yang mereka butuhkan ialah label menjerumuskan dari Anda, ibarat “orang galau”, “orang lemah” dll.


Referensi:
1The Joint Commission. 2004. What You Should Know About Adult Depression.
2Ramadhan, Adhitya. 2017. “Curhat” Membuat Kita Sehat. Diakses dari https://www.pressreader.com/indonesia/kompas/20170409/282295320058433, pada tanggal 16 Mei 2017
3Harsono, Fitri Haryanti. 2017. Instagram, Ruang Aman bagi Pengguna yang Dilanda Depresi. Diakses http://health.liputan6.com/read/2880999/instagram-ruang-aman-bagi-pengguna-yang-dilanda-depresi, pada tanggal 16 Mei 2017
4Matthew. 2015. Speaking Up is the First Step to Overcoming Depression. Diakses dari http://youmatter.suicidepreventionlifeline.org/talk-about-depression, pada tanggal 16 Mei 2017/

Sumber Gambar: http://www.wallpaperup.com/uploads/wallpapers/2015/09/18/805515/big_thumb_e191b8d2d5c0f1820f1e12200ca53176.jpg

Let others know the importance of mental health !

Balas Dendam: Dikala “Maaf” Tidak Cukup Mengobati Luka Hati

“Mata dibalas mata hanya akan menciptakan seluruh dunia menjadi buta.”
– Mahatma Gandhi.

Seringkali kita merasa kecewa dan sakit hati atas tindakan yang dilakukan orang lain pada kita. Entah sebuah tindakan disengaja atau tidak, tetap saja terasa menyakitkan, bukan? “Memaafkan” nampaknya bukan sebuah kata yang menjadi pilihan untuk dilakukan. Ada harapan lain yang lebih besar: harapan untuk membalas perbuatan yang dilakukan orang itu. Keinginan untuk membalas dendam.

Kata “balas dendam” terdengar lebih familiar pada dongeng fiksi atau film action yang biasa hadir di layar bioskop. Kata ini juga terasa begitu “jahat” dan sering dihubungkan dengan tindakan kekerasan yang merujuk pada kematian.
Kenyataan dalam kehidupan sehari-hari, balas dendam juga sanggup terjadi.

Bagaimana sebetulnya balas dendam itu?

Berkenalan dengan luka

Perkenalkan, namanya yaitu luka emosional. Keberadaannya sering diabaikan, alasannya ia tidak tampak oleh mata. Jika luka fisik yang terlihat terang menjadi penting untuk diobati, demikian halnya dengan luka secara emosional.
Ada banyak hal yang sanggup memicu luka emosional seseorang. Mulai dari usikan yang diberikan oleh orang sekitar hingga diam-diam yang disebarluaskan oleh sobat dekat. Contoh lain yang cukup menyakitkan yaitu ketika kekasih mendua dengan orang lain.

Meski tidak tampak, luka emosional mempunyai pengaruh yang besar terhadap kehidupan seseorang. Rasa sakit yang disebabkan oleh gangguan emosi lebih terasa dan lebih bertahan usang dibandingkan rasa sakit yang disebabkan oleh luka fisik. Bahkan, penyebab terbanyak seseorang melaksanakan bunuh diri yaitu lantaran kesedihan dan depresi yang mendalam, bukan lantaran mencicipi sakit secara fisik.

Ketika terluka, kita selalu mencari cara untuk memperbaiki perasaan.

Salah satu caranya yaitu dengan melaksanakan pembalasan, membalas dendam dan menghukum pihak yang dianggap bersalah. Harapan seperti, “Semoga beliau menerima balasannya.” Hingga “Awas saja, tunggu hingga beliau mencicipi hal ini juga.” Tentu pernah terbesit dalam pikiran ketika seseorang menyakiti kita.

Sebuah penelitian mengatakan bahwa balas dendam sanggup menciptakan seseorang merasa lebih baik. Hal ini dilakukan sehabis mengukur kondisi emosi seseorang sebelum terluka dan sehabis melaksanakan pembalasan dendam.

Hasilnya mengatakan bahwa kondisi emosi sehabis melaksanakan balas dendam sama dengan mereka yang tidak merasa terluka secara emosi.

Secara sederhana, hasil penelitian tersebut sanggup digambarkan sebagai berikut:
Perasaan terluka ( Muncul emosi negatif ( Keinginan untuk membalas ( Kesempatan tiba ( Melakukan balas dendam ( Kondisi emosi kembali normal menyerupai tidak pernah terjadi apapun.

Apakah dengan melaksanakan balas dendam, semuanya akan jauh lebih baik?

Pada dasarnya, insting untuk membalas dendam dimiliki oleh setiap orang. Tergantung bagaimana pengendalian diri dan kepribadian seseorang dalam mendapatkan insting tersebut. Namun demikian, balas dendam merupakan bentuk self-destructive (menghancurkan diri sendiri).

Seringnya, balas dendam dilakukan dengan perbuatan yang jauh lebih bernafsu dan menyakitkan. Bukan mustahil bila korban yang awalnya menjadi penyebab kita terluka secara emosional, akan melaksanakan pembalasan balik. Bukankah siklus menyerupai ini justru menciptakan kebencian dan perpecahan yang tidak akan ada habisnya?

Menerima adanya harapan untuk membalas dendam yaitu bentuk pengendalian diri

Semua orang tentu pernah terluka batinnya. Kita tidak sanggup mengharapkan orang lain untuk berbuat baik pada kita setiap saat. Terkadang ada tindakan yang dilakukan orang lain, baik disengaja maupun tidak, yang menyakiti perasaan kita. Maka dari itu, semua bergantung pada bagaimana diri kita menyikapinya.
Bayangkan jikalau semua orang berpikiran untuk melaksanakan pembalasan dendam. Dunia akan kacau dan dipenuhi dengan kebencian. Apakah itu hidup yang kita inginkan?

Barangkali, apa yang dikatakan Frank Sinatra itu benar. Bahwa “Balas dendam terbaik yaitu dengan meraih keberhasilan besar.”

Let others know the importance of mental health !

Balas Dendam? No Way!

“Kamu tidak bisa memperbaiki dirimu dengan cara menghancurkan orang lain” – Anonymous

Apa yang terpikirkan pertama kali ketika Anda merasa kesal dengan orang lain? Balas dendam? Ya, berbagai pertikaian kecil yang memercikkan api dendam. Balas dendam merupakan sebuah agresi menyakiti sekaligus merugikan orang lain yang disebabkan lantaran perasaan kesal ingin membalas sikap orang tertentu. Misalnya ketika Anda merasa dikhianati seseorang, rasanya Anda ingin orang tersebut juga mencicipi hal yang sama.

Memang benar adanya bahwa sikap balas dendam yaitu kekuatan internal dalam diri yang sesungguhnya harus diselidiki dan dimengerti lebih lanjut. Mungkin beberapa dari Anda percaya bahwa dengan balas dendam, emosi bisa terlampiaskan dan perasaan menjadi lebih baik. Faktanya, dampak balas dendam justru terjadi sebaliknya. Yuk, simak fakta-fakta seputar balas dendam dibawah ini.

Balas dendam: insting dasar manusia
Setiap insan mempunyai naluri biar orang lain bisa mencicipi hal yang sama dengan yang dirasakan. Begitu juga dengan balas dendam yang tidak sanggup disangkal terkadang menguasai pikiran.

Para peneliti mengemukakan bahwa balas dendam merupakan bentuk pemberian dan proses mencari keadilan untuk diri sendiri. Cara yang dilakukan dengan membalas orang lain bahwasanya yaitu bentuk dari self-destructive (merusak diri sendiri) lantaran membiarkan diri ini melaksanakan hal jelek dengan menjatuhkan orang lain. Menimbulkan efek ketidaknyamanan jangka panjang.

Para peneliti dari Swiss melaksanakan studi wacana apa yang terjadi pada otak insan ketika ingin balas dendam. Hasil menunjukkan bahwa beberapa ketika sesudah melaksanakan balas dendam, secara alamiah otak kita terasa ‘ringan’ dengan problem yang sedang dihadapi. Namun, ternyata hal tersebut malah akan menuai perasaan yang tidak nyaman dalam jangka waktu yang panjang. Bukannya jutsru menenangkan pikiran, tetapi menciptakan siklus balas dendam terus berjalan.

Balas dendam lantaran belum berdamai dengan masa lalu

Balas dendam bahwasanya identik dengan perjuangan Anda untuk membuka kembali luka usang dan memupuk kembali emosi negatif. Sejatinya, Anda melaksanakan pembalasan terhadap orang lain lantaran Anda sendiri belum bisa mengobati rasa sakit. Ujung-ujungnya, balas dendamlah yang menjadi pilihan Anda. Benar atau tidak?

Pribadi yang haus akan status, kekuatan, dan kepemilikan cenderung suka membalas dendam

Studi yang dilakukan oleh seorang psikolog berjulukan Ian McKee menunjukkan bahwa orang-orang yang melaksanakan balas dendam biasanya mereka termotivasi untuk menguasai sesuatu. Mereka yaitu orang-orang yang mencari status, wewenang, dan ingin mendominasi.

Beda budaya, beda makna balas dendam
Penelitian yang dilakukan oleh Gelfand-profesor psikologi di Universitas Maryland menunjukkan bahwa budaya kolektivis cenderung mempunyai impian untuk balas dendam lantaran balas dendam gampang menyebar ke orang lain. Sementara, budaya yang individualis tidak terlalu mementingkan keberadaan orang lain sehingga mereka cenderung tidak peduli.

Kemarahan, penyiksaan, dominasi yang ditunjukkan kepada orang lain semata-mata lantaran ingin membalas perilakunya merupakan ‘tabungan’ untuk merusak diri sendiri. Balas dendam memang gampang dilakukan, tetapi dampak jangka panjangnya perlu diperhitungkan. Percayalah bahwa setiap insan ingin senang dan bebas dari rasa benci. Nah, maka dari itu Anda tidak perlu mencelakai diri Anda sendiri dengan cara menjatuhkan orang lain. Ya atau tidak?

Let others know the importance of mental health !

Steve Jobs Si Perfeksionis

Tujuan kami yakni membuat perangkat terbaik di dunia “ – Steve Jobs

Siapa yang tidak kenal Steve Jobs? Sosok dibalik salah satu raksasa teknologi yang bisa meraup laba $18,4 miliar dalam kuartal pertama 2017 ini tentu tak asing bagi kita semua. Ialah Steve Jobs, co-founder Apple Computers yang lahir pada 24 Februari 1955 di San Francisco, California.

Walaupun ia telah tiada sejak Oktober, 2011, begitu banyak rekam jejaknya yang masih menjadi pandangan gres hingga sekarang, baik berupa buku, video, dan media lainnya. Kesuksesannya terperinci membuat kagum banyak orang. Namun, siapa sangka bahwa kesuksesannya berawal dari langsung perfeksionisnya?

Seorang perfeksionis terkadang menyebalkan. Orang-orang di sekitar Steve Jobs setuju akan hal itu. Jobs kerap disebut sebagai orang yang kasar, pendendam, musuh, dan panggilan jelek lainnya. Ia tak akan menyetujui apapun yang ia anggap tidak sempurna.

Ia percaya bahwa setiap objek yang berkaitan dengan konsumen, tiap titik dari objek tersebut haruslah sempurna, walaupun itu tak terlihat. Tentu saja melelahkan menjadi pegawainya. Meskipun begitu, Jobs mengerti apa yang ia lakukan.

Jobs terobsesi dengan hal-hal detail. Ia mencetuskan ide kipas internal di dalam mesin hanya alasannya ia terusik dengan keganjilan dan keberisikan kipas eksternal. Ia ingin mendesain ulang motherboard Mac semoga semua terlihat elegan. Butuh 6 bulan bagi Jobs untuk menyetujui cara kerja scroll kafe pada OS X.

Jobs memaksa semoga iklan Apple di majalah haruslah dicetak dengan 6 warna. Detail-detail kecil menyerupai itu yang terus dituntut oleh Jobs ketika menjalankan bisnisnya. Perfeksionismenya terperinci besar lengan berkuasa besar terhadap menyerupai apa produk-produk Apple ketika ini.

Alasan mengapa produk-produk Apple digemari banyak sekali kalangan yakni rasa yang dihadirkan oleh produk tersebut kepada siapapun yang membelinya: eksklusivitas. Produk-produk Apple muncul sebagai produk dengan integritas dan orisinalitas tinggi, meskipun harus merogoh kocek lebih dalam untuk itu.

Ya, tidak hanya para konsumen yang merasa demikian, ternyata Jobs pun tidak segan-segan untuk membayar mahal untuk modal produknya sendiri. Perusahaannya mempunyai pabrik, disk drive, kabel, dan soket listrik yang unik dan tidak mengikuti standar pada umumnya. Seluruh keunikan tersebut merupakan hak cipta milik Apple. Begitu pula dengan perangkat lunak yang digunakan. Semua harus serba Apple.

Efek perfeksionisme Jobs tidak berhenti hingga di situ. Caranya menyikapi produknya berhasil membuat ekosistem pasar gres bagi industri teknologi. Apple tidak menyerupai teknologi-teknologi lain yang saling berkolaborasi dan gampang dimodifikasi. Apple bisa bangun tegak bersama kesetiaan penggemarnya, dan membuatnya semakin kuat.

Tak selamanya ketat, kadang Jobs masih berbesar hati untu melonggarkan kendalinya akan segala hal terkait produknya. Nyatanya, lebih dari 400.000 aplikasi-aplikasi iPhone dikembangkan oleh pengembang aplikasi dari luar Apple. Aplikasi-aplikasi tersebut tak lepas dari pengawasan Jobs. Ia beropini bahwa, menyampaikan “tidak” pada sebuah ide sama pentingnya dengan menyetujuinya.

Sifat perfeksionis menyebabkan Jobs sebagai sosok inspiratif hingga sekarang. Terbukti bahwa Apple tumbuh besar menjadi perusahaan paling bernilai bukan alasannya Jobs hanya membuat perangkat yang fungsional, namun ia menanamkan seluruh hati kedalamnya—bahkan ke sudut terkecilnya. Ternyata, hal-hal kecil sanggup berdampak begitu besar, ya?


Sumber data tulisan

Data penjualan Apple didapat dari “Apple Pecahkan Rekor Pendapatan & Penjualan iPhone di Kuartal 1 2017” goresan pena MakeMac http://www.makemac.com/apple-pecahkan-rekor-pendapatan-penjualan-iphone-di-kuartal-1-2017/

Cerita hidup Steve Jobs disadur dari :
“HOW STEVE JOBS CHANGED“ goresan pena Jamse Surowiecki pada The New Yorker http://www.newyorker.com/magazine/2011/10/17/how-steve-jobs-changed ,

“The Crazy Perfectionism That Drove Steve Jobs “ goresan pena Rebecca Greenfield pada The Atlantic https://www.theatlantic.com/technology/archive/2011/11/crazy-perfectionism-drove-steve-jobs/335842/

“Steve Jobs the Patron Saint of Perfectionists “ goresan pena Saul Hansell pada TechCrunch https://techcrunch.com/2011/08/24/steve-jobs-the-patron-saint-of-perfectionists/

Sumber foto:
http://www.boomsbeat.com/articles/13/20131231/50-facts-that-you-didnt-know-about-steve-jobs.htm

Let others know the importance of mental health !