Mengendalikan Diri Dengan Berpuasa

“Puasa bukanlah ‘diet’ yang memperabukan kalori, melainkan memperabukan ego, kebanggaan, dan dosa.” – Anonim

Puasa merupakan salah satu ibadah yang harus dijalani oleh umat Islam, terlebih pada bulan Ramadhan mirip ini. Jika dilihat dari sisi psikologi, selain sebagai bentuk ibadah, puasa juga mempunyai manfaat psikologis. Salah satunya sebagai cara untuk mengendalikan diri,

Dalam teori hierarki kebutuhan yang dicetuskan Abraham Maslow disebutkan bahwa makan dan minum termasuk dalam kebutuhan fisiologis atau primer seseorang. Sementara berdasarkan Freud, harapan makan dan minum tersebut diibaratkan sebagai id atau harapan yang muncul secara alami. Ketika seseorang tengah berpuasa, orang tersebut diharuskan untuk menahan itu semua, mengendalikan diri untuk ‘mendekati’ kenikmatan tersebut.

Pada dasarnya puasa bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga hawa nafsu lainnya. Puasa besar lengan berkuasa positif terhadap psikologis seseorang, mirip besar lengan berkuasa terhadap emosi, performansi, dan perilaku. Puasa juga sanggup menjadi sarana untuk melatih kesabaran, mengendalikan emosi negatif, melatih rasa empati, serta mengurangi sifat sombong dalam diri seseorang, Sebab seringkali seseorang berlebihan dikala makan dan minum. Akibatnya muncul sikap egois atau mementingkan diri sendiri. Untuk itu, puasa menjadi salah satu cara untuk mengendalikan diri atau dalam istilah psikologinya disebut sebagai pengendalian diri atau self control. Istilah ini ditujukan bagi seseorang yang berusaha dengan seluruh kemampuannya serta dengan kesungguhan hati untuk menahan diri dari ‘musuh’ dari dalam dirinya.

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa puasa merupakan ibadah yang mengharuskan seseorang untuk menahan nafsunya, mirip lapar dan dahaga. Namun, tidak jarang jikalau banyak pemicu yang menciptakan seseorang ingin makan, minum, bahkan menciptakan emosinya meledak-ledak. Dengan demikian perlu adanya kendali atau kontrol dari orang tersebut. Hurlock, spesialis psikologi perkembangan mengungkapkan bahwa pengendalian diri terkait dengan bagaimana seseorang mengendalikan emosi serta dorongan dalam dirinya. Dalam hal ini ‘musuh’ atau dorongan tersebut berupa harapan untuk makan atau minum dikala berpuasa.

Pengendalian diri mencakup tiga hal adalah pengambilan keputusan, mempertahankan untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu, serta penguatan diri mirip memuji bahkan menyalahkan diri sendiri. Jika dikelompokkan, puasa termasuk ke dalam kategori kedua adalah mempertahankan untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu. Adanya pengendalian diri tersebut mempunyai beberapa fungsi, adalah membatasi perhatian seseorang terhadap orang lain, membatasi harapan seseorang untuk mengendalikan orang lain. Selain itu, berfungsi untuk membatasi seseorang bertingkah laris negatif dan membantu seseorang menyeimbangkan kebutuhan. Dengan demikian puasa menjadi alat pengendalian diri yang menuntut seseorang untuk mengendalikan diri seseorang dari tindakan-tindakan yang merugikan diri, orang lain, dan lingkungan.

Dari paparan di atas sanggup disimpulkan bahwa puasa bukan hanya ibadah yang mengharuskan seseorang untuk menahan lapar, dahaga, dan hawa nafsu. Namun, puasa juga bermanfaat secara psikologis, mirip besar lengan berkuasa positif terhadap emosi dan perilaku, serta bermanfaat dari sisi kemanusiaan. Seperti melatih empati, mengendalikan emosi, serta melatih kesabaran. Puasa juga menjadi salah satu cara mengendalikan diri. Pengendalian diri tersebut mempunyai beberapa fungsi, mirip membatasi seseorang bertingkah laris negatif. Untuk itu, dikala berpuasa sebaiknya diniatkan untuk beribadah lantaran puasa mempunyai manfaat spiritual dan psikologis. Bukan hanya diniatkan untuk menahan makan apalagi untuk diet.


Referensi:
1Rosita, Chairul Hana. 2009. Puasa dan Pengendalian Diri Perspektif Kesehatan Mental. Skripsi.
2Khairunnisa, Ayu. 2013. Hubungan Religiusitas dan Kontrol Diri dengan Perilaku Seksual Pranikah Remaja di MAN 1 Samarinda. eJournal Psikologi, 1, 2, 220-229.
3Yuwono, Susatyo. Pendidikan Karakter melalui Agama. 225-232
4Asikhin, Ahmad. 2005. Puasa Menurut Quraish Shihab dan Hubungannya dengan Kesehatan Mental.

Sumber Gambar:
http://i.huffpost.com/gen/1239915/images/o-RAMADAN-FASTING-facebook.jpg

Let others know the importance of mental health !

Diagnosa Penyakit Kronis Bukan Penghilang Keinginan Hidup!

“Jika saya terus mendefinisikan diri saya berdasarkan apa yang tidak sanggup saya lakukan atau apa yang sanggup dilakukan orang normal, maka hal itu akan menghancurkan hidup saya.” – Anonim

Fakta bahwa Anda atau orang terdekat Anda didiagnosis dengan penyakit kronis mungkin ialah salah satu fakta terberat yang harus diterima dalam hidup. Dalam prosesnya, mendapatkan kenyataan ini bukan hal yang gampang bagi beberapa orang. Tidak ada lagi hari-hari di mana Anda bebas mengkonsumsi masakan yang Anda inginkan. Tidak ada lagi hari-hari di mana Anda bebas beraktivitas tanpa harus berulangkali mengingatkan diri Anda sendiri bahwa badan Anda tidak lagi sekuat dulu. Hari-hari Anda mungkin berganti diisi oleh jadwal kontrol ke dokter, jadwal istirahat, dan jadwal meminum obat. Belum lagi pantangan mengkonsumsi jenis masakan tertentu yang sanggup memperburuk kondisi penyakit yang Anda derita.

Hari-hari awal menjalani keseharian yang mengubah rutinitas secara drastis ini sanggup mempengaruhi kondisi psikis seseorang. Apalagi bila orang yang bersangkutan masih menolak mendapatkan keadaan tubuhnya. Secara psikologis, berdasarkan Elisabeth Kubler-Ross, seorang psikiater kelahiran Swiss, ada beberapa tahapan yang dilalui seseorang dikala sedang menjalani masa-masa sulit menyerupai ini hingga hasilnya ia sanggup mendapatkan kondisinya. Tahapan tersebut terbagi ke dalam lima tahapan sebagai berikut:

1. Penyangkalan
Tahap ini ialah reaksi awal yang muncul dikala seseorang didiagnosa mengidap penyakit kronis tertentu. Di masa ini, orang yang didiagnosa masih berpikiran bahwa semua mustahil terjadi. Bahwa ia mustahil mempunyai penyakit. Bahwa ia tetaplah seseorang yang sehat. Namun perlu dipahami bahwa reaksi ini ialah reaksi sementara yang normal. Hal ini dilakukan untuk bersembunyi dari rasa sakit yang dirasakan. Ini juga sebagai bentuk rasionalisasi emosi campur aduk yang dirasakan pasca diagnosa.

2. Marah
Setelah menyangkal dan menggunakan topeng kepercayaan bahwa ia tidak mengalami problem apapun, seseorang kemudian menyadari bahwa ia tetap tidak sanggup lari dari kenyataan bahwa ia sakit. Rasa sakit yang dirasakan, obat-obat yang terus wajib dikonsumsi, kunjungan ke dokter yang tetap harus dilakukan, menciptakan mereka terkungkung oleh penyangkalan yang mereka lakukan. Akhirnya, hal ini berujung pada kemarahan yang meluap. Kemarahan ini bahu-membahu ditujukan pada keadaan mereka sendiri. Namun, dalam pengekspresiannya terkadang ditujukan pada orang-orang di sekitar yang peduli kepada mereka, kepada benda-benda mati di sekelilingnya atau bahkan pada dokter yang menangani.

3. Kompromi
Pada tahap ini, seseorang yang didiagnosis penyakit kronis mulai menjembatani ketidakberdayaannya terhadap kondisi yang dialami dengan pemikiran-pemikiran apa yang mungkin terjadi bila mereka sanggup mengambil beberapa langkah mundur. Di tahap ini, seseorang mulai berandai-andai, ’apa yang terjadi bila saya mengetahui kondisi saya ini lebih awal…’ atau ‘saya akan memperlihatkan apapun saya yang punya untuk hidup lebih lama…’ dan banyak anutan lainnya. Ini ialah reaksi normal insan untuk membangun dinding dari kenyataan menyakitkan yang dirasakan.

4. Depresi
Di tahap ini, seseorang mulai dalam tahap awal mendapatkan keadaannya. Ia mulai merasa sedih, takut, menyesal, dan merasa berada di ambang ketidakpastian. Orang yang berada di tahap ini biasanya menutup diri dari dunia luar. Ia banyak berpikir, ‘toh hidupku juga tidak akan usang lagi, untuk apa aku….’ atau ‘aku tidak perlu melaksanakan apapun alasannya ialah keadaanku juga tidak akan membaik..’
Seseorang mulai merasa ada bab kosong dalam hidupnya yang dirasa tidak akan sanggup diisi oleh apapun atau siapapun. Perwujudan perasaan ini dilakukan dengan penarikan dirinya dari orang-orang di sekitar. Pada situasi yang lebih parah, seseorang mungkin akan menolak untuk mengkonsumsi obat-obatan yang seharusnya ia konsumsi dan mematuhi aturan-aturan dari dokter.

5. Penerimaan
Sesuai dengan namanya, di tahap ini seseorang mulai mendapatkan kondisinya. Definisi “menerima” tentunya berbeda bagi setiap orang. Ada yang mulai berpikir, ‘Baiklah, tidak apa apa, saya masih sanggup berjuang dengan penyakitku…’atau ada yang mulai berpikir, ‘Ya sudah saya siap mendapatkan kapanpun Tuhan menginginkan hidupku…’
Meski sudah hingga ke tahap ini, tidak jarang orang sanggup kembali ke tahap-tahap sebelumnya. Hal ini ialah hal yang manusiawi. Sekuat apapun, seseorang tetaplah insan biasa.

Di saat-saat menyerupai ini pertolongan dari lingkungan sekitar menjadi hal yang vital. Memastikan seseorang tetap mempunyai daya juang untuk menjalani hidupnya dengan penuh impian perlu dilakukan. Dalam hidup, tidak semua yang kita rencanakan akan berjalan menyerupai yang diharapkan. Terkadang hidup memberi kejutan, dan seringkali kejutan tersebut bukan hal yang menyenangkan. Akan ada hari-hari di mana mungkin seseorang itu merasa baik dan bahkan melupakan kondisi dirinya, namun akan ada pula hari-hari di mana untuk bangun dari kasur di pagi hari ialah hal yang sulit untuk dilakukan. Namun demikian, hal ini bukan alasan bagi siapapun untuk kehilangan impian akan hidup. Cobaan dalam hidup tidak akan pernah salah alamat. Ia selalu tiba pada orang-orang yang berpengaruh untuk menghadapinya. Tetap berpikiran baik, bahwa hidup selalu penuh dengan kebaikan asal kita cukup berbesar hati untuk memandangnya demikian

“Hidup tidak akan pernah ada tanpa harapan, Harapan tidak akan pernah ada tanpa hidup.” – Anonim


Referensi:
Proses tahapan milik Elisabeth Kubler-Ross dirangkum dari:
1https://psychcentral.com/lib/the-5-stages-of-loss-and-grief/
2http://www.huffingtonpost.co.uk/hafsa-momin/acceptance-of-chronic-illness_b_5806028.html

Sumber foto: foreverhope.org

Let others know the importance of mental health !

John Wick: Jangan Usik Hal Berharga Pada Diriku!

“Ketika Helen meninggal, saya kehilangan segalanya. Sampai dikala anjing dari Helen datang.. Hadiah terakhir dari istriku.. Pada waktu itu, saya mendapatkan sedikit harapan.. Kesempatan untuk berduka tidak sendiri.. Dan anakmu.. mengambilnya dariku!” – John Wick

Informasi Film

Sutradara: Chad Stahelski
Pemain: Keanu Reeves, Michael Nyqvist, Alfie Allen
Tahun rilis: 2014
Produksi: Thunder Road Pictures, 87Eleven Productions, MJW Films, dan DefyNite Films
Durasi: 1 jam 41 menit

Kehilangan seseorang yang kita cintai terkadang menghadirkan luka yang dalam. Perasaan sedih yang mendalam ini bahkan sanggup menciptakan kita merasa sangat kehilangan orang tersebut dalam waktu yang lama. Mungkin kita juga merasa tidak rela jikalau ada pihak lain yang mengganggu hal yang bekerjasama dengan orang yang kita cintai. Kondisi tersebut dikisahkan dalam film action berjudul John Wick yang rilis pada tahun 2014 lalu.

John Wick ialah seorang mantan pembunuh bayaran terbaik yang bekerja untuk kelompok berjulukan Continental. John tetapkan untuk berhenti bekerja sebagai pembunuh bayaran sehabis ia bertemu dengan seorang perempuan berjulukan Helen. Viggo Tarasov, pemimpin Continental, menawarkan syarat atas keputusan John dengan kiprah yang mustahil dilakukan yaitu membunuh semua kompetitornya dalam satu malam.

Meskipun demikian, John berhasil melaksanakan tantangan tersebut dan berhasil mengalahkan anak buah Viggo yang berusaha membunuhnya. John kesudahannya resmi keluar dan menikahi Helen.

Sayangnya, tak usang kemudian Helen meninggal dunia dan menyisakan luka yang dalam pada sang suami. Ia meninggal alasannya ialah penyakit akut yang dideritanya. Helen pergi untuk selama-lamanya dan meninggalkan anjingnya yang berjulukan Daisy untuk John sehingga John tidak merasa sedih dan kesepian. John sangat mengasihi anjing itu sebagai derma terakhir dari istrinya. Kenangan John akan Helen ternyata terusik oleh sekelompok orang yang tak dikenalnya.

Suatu hari John, yang membawa Daisy, sedang mengisi materi bakar kendaraan beroda empat antik miliknya. Tiba-tiba ada sekelompok orang Rusia menawar kendaraan beroda empat John dan meminta Daisy untuk diberikan kepada mereka. Namun apa yang terjadi? John menolak dengan tegas. Malangnya, ternyata sekelompok orang tersebut mengikuti John hingga rumah dan pada malam hari dan persekutuan orang tak dikenal tersebut tega mencuri kendaraan beroda empat John dan membunuh Daisy.

Belakangan, John tahu bahwa sekelompok orang tersebut ternyata ialah anggota Continental dan salah satunya ialah Iosef Tarasov, anak dari Viggo Tarasof. Dendam John Wick atas kelakuan Iosef Tarasov membuatnya berniat untuk membunuh anak Viggo tersebut.

Pencarian yang dilakukan John Wick tidak sia-sia alasannya ialah pada kesudahannya ia sanggup membunuh Iosef, bahkan juga Viggo. Usaha pemberantasan Continental yang dilakukan oleh John ternyata juga menciptakan Marcus, mentor John dikala di Continental yang juga berpihak padanya, terbunuh. Film yang hampir setiap adegannya diisi dengan duel antara John Wick dan Continental ini diakhiri dengan John yang terluka. John mengobati dirinya sendiri di klinik binatang dan membawa pergi salah satu anjing yang ada di sana sebagai pengganti Daisy.

Kisah yang diceritakan dalam film John Wick ini memperlihatkan pada kita bahwa ternyata hal kecilpun sanggup jadi duduk kasus besar jikalau hal tersebut berharga untuk kita. Sesuatu yang berharga memang pantas untuk diperjuangkan, bukan?

Akan tetapi, bisakah kita mencari cara lain untuk menuntaskan duduk kasus dengan lebih damai? Seperti kisah terbunuhnya Marcus yang bekerjsama baik dan memihak John, kita tidak ingin orang lain yang juga kita cintai terluka kan? Penyelesaian duduk kasus dengan cara yang positif dan tenang tidak hanya menguntungkan bagi kita namun juga pihak lain yang terlibat. Seiring berjalannya waktu, sifat memaafkan akan terpatri dalam diri ini.

Dengan demikian, tidak ada perasaan dendam yang berujung pada akhir fatal. Tidak ada salahnya untuk memaafkan orang lain lebih dulu, bukan? Penelitian yang dilakukan oleh Michael McCullough bahkan memperlihatkan bahwa memaafkan sanggup menciptakan hubungan sosial seseorang membaik dan mengurangi kecendurngan untuk berperilaku kasar.

Nah, tentunya film ini menuai banyak pelajaran yang sanggup kita ambil hikmahnya untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai makhluk sosial, kiprah insan ialah tetap berusaha untuk menebar kebaikan pada sesama. Kontrol sikap semoga tidak menyakiti orang lain juga perlu dilakukan. Tidak lupa untuk menularkan apa yang sudah didapat dari artikel ini, ya! Salam berpijar untuk negeri!

Let others know the importance of mental health !

Di Balik Tren Menentukan Masakan Sebagai Bab Dari Gaya Hidup

“Ini yakni pilihan kita, Harry, yang menawarkan siapa diri kita sebenarnya, lebih jauh dari kemampuan kita sendiri.” (J.K. Rowling, Harry Potter and The Chamber of Secrets)

Akhir-akhir ini teman-teman Anda mungkin melaksanakan beberapa perubahan pada referensi makannya. Tiba-tiba saja mereka mulai tidak mengkonsumsi nasi sebagai materi masakan pokok dan menggantinya dengan kentang, jagung, atau sayur-sayuran. Mungkin sahabat Anda juga hanya memakan sayur dan daging saja akhir-akhir ini, hanya makan 1-2 kali sehari, atau mengganti minumannya dengan infuse water, atau oxygen water. Mungkin bukan sahabat Anda saja yang melakukannya, tapi Anda juga mengalaminya. Lalu, apa sebetulnya yang perlu kita ketahui dari pilihan makan yang kita konsumsi sehari-hari?

Tiap orang memiliki selera makan yang berbeda-beda dan hal ini bisa mempengaruhi pilihan mereka pada makanan. Konteks sosio-kultural juga mempengaruhi evaluasi kita dalam menentukan makanan. Sayangnya, masakan yang kita konsumsi terkadang mengesampingkan fungsi dari nutrisi utamanya. Makanan yang dikonsumsi lebih banyak menggambarkan wacana budaya dan gaya referensi makan kita mengikuti sebagian besar masyarakat. Hal ini dipengaruhi oleh dampak global dan cepatnya perkembangan tren dikala ini. Banyak informasi-informasi khususnya melalui internet wacana konsumsi masakan yang sehat, pantangan dalam referensi makan, hingga dampak jenis masakan tertentu terhadap bentuk tubuh. Apalagi fenomena untuk mendapat bentuk tubuh ideal sedang marak akhir-akhir ini. Keinginan untuk mendapat tubuh ideal menjadi salah satu faktor orang menjaga referensi makannya, entah itu untuk mempertahankan kesehatan atau hanya mengikuti tren saja.

Stigma dalam menentukan masakan pun muncul dalam masyarakat, ibarat jenis masakan yang dianggap ‘feminin’ yaitu masakan dengan porsi kecil ibarat salad. Sedangkan jenis masakan yang dianggap ‘maskulin’ yakni masakan dengan porsi lebih besar ibarat sandwich daging. Menurut seorang dokter di Pennsylvania, Basow, dan Pelatih Kesehatan Austin, Kobrynowicz dikutip dalam Conner dan Armitage, perempuan yang makan dengan porsi kecil mendapat persetujuan sosial yang lebih tinggi daripada dikala mereka makan dengan porsi makan yang lebih besar. Makanan seharusnya menciptakan kita merasa lebih baik. Jika Anda makan terlalu sedikit atau terlalu banyak, hal itu akan mempengaruhi kesehatan dan kualitas hidup Anda. Justru, hal ini yang menimbulkan perasaan negatif terhadap masakan dan harapan untuk mengubah kebiasaan makan tersebut.

Banyak orang memakai masakan sebagai prosedur penanganan stres (coping mechanism) untuk mengatasi perasaan stres, kebosanan, dan kecemasan, ataupun mempertahankan perasaan bahagia. Sayangnya, hal itu mengatasi persoalan untuk jangka pendek saja. Makan untuk meredam perasaan sering menimbulkan perasaan penyesalan dan meningkatkan perasaan negatif. Bahkan lebih jauh lagi, Anda bisa menambah persoalan self-image (citra diri) dengan bertambahnya berat badan.

Menurut beberapa ahli, orang cenderung mengubah kebiasaan mereka alasannya yakni terancam dengan penyakit tertentu. Sebagian orang memerlukan beberapa petunjuk untuk mengambil tindakan dalam mengubah kebiasaan atau menciptakan keputusan terkait kesehatan mereka. Selain itu ada beberapa teori yang menjelaskan kebiasaan seseorang berasal dari tiga hal yaitu sikap, persepsi tekanan sosial untuk melaksanakan suatu perilaku, dan kontrol yang dirasakan atas sikap tersebut.

Nah, cara kita dalam menentukan masakan yang dikonsumsi menawarkan budaya dan gaya hidup kita. Sebagian orang mengikuti tren referensi makan sehat mengacu pada kebutuhan fisik. Namun, tidak jarang juga evaluasi dan stigma dari masyarakat mempengaruhi psikologis kita untuk melaksanakan hal yang sama. Hal penting yang perlu diperhatikan yakni pilihan masakan yang kita konsumsi tetap terjaga keseimbangan gizinya. Jadi, pilihlah dengan cermat tergantung kebutuhan tubuh Anda ya!


Referensi:
Conner, M. & Armitage, C. 2002. Applying Social Psychological: The social psychological of food.
Dr. France Bellisle. 2006. The determinants of food choice. EUFIC. http://www.eufic.org/en/healthy-living/article/the-determinants-of-food-choice
Gaby Pfeifer. 2009. Factors in food choice. The British Psychological Society. https://thepsychologist.bps.org.uk/volume-22/edition-7/factors-food-choice

Sumber foto:
https://68.media.tumblr.com/e3c8164b1272923cd3465f118dd15f89/tumblr_ok765gJ4cM1v4v4kjo1_500.jpg

Let others know the importance of mental health !

Membuat Personal Zone: Antara Menyerah Atau Bertahan?

“Kita tidak akan pernah menjadi apa yang kita inginkan dengan tetap menjadi siapa diri kita sekarang”
(Max DePree)

Apakah Anda pernah mendengar istilah Personal Zone atau istilah lainnya yaitu Comfort Zone (zona nyaman)? Banyak sekali terjadi oleh sebagian dari Anda, situasi yang menciptakan Anda ingin memulai lembaran gres dengan membangun zona pribadi. Salah satu sebabnya sanggup lantaran ketidaknyamanan untuk tinggal di lingkungan bersama orang bau tanah atau di lingkungan tertentu yang membatasi kebebasan Anda. Lalu, kapan bahwasanya kita membutuhkan personal zone dan bagaimana cara membangunnya?

Personal zone atau comfort zone yaitu kondisi di mana kita berada di zona langsung yang menggambarkan identitas kita sebenarnya, termasuk bagaimana kita mencicipi sesuatu, bagaimana isi anutan kita, hingga mengenal apa yang menjadi keinginan kita sebenarnya. Dalam situasi tertentu menyerupai seseorang yang memiliki ibu narsistik, akan memiliki beberapa kecemasan. Beberapa kecemasan tersebut menyerupai ketakutan akan ketidaksetujuan beliau. Anda terbebani lantaran dikontrol secara berlebihan, Anda cenderung membutuhkan orang lain untuk memenuhi kebutuhan Anda, hal itu juga yang menciptakan Anda sulit mengekspresikan diri termasuk dikala kesal atau marah. Situasi ini sanggup menciptakan Anda kehilangan emosi dan anutan Anda sendiri lantaran terganggu dengan keinginan untuk membahagiakan orang lain walaupun itu menciptakan Anda tidak menjadi diri sendiri. Maka dari itu Anda butuh membangun zona langsung dengan tujuan untuk mengenal kembali siapa diri Anda dan apa yang Anda inginkan, bukan apa yang diinginkan ibu, ayah atau orang lain. Nah, berikut beberapa cara yang sanggup Anda coba dalam membangun zona langsung atau personal zone:

Hiraukan Kritik Negatif Tentang Diri Sendiri
Terkadang ada suara-suara di pikiran kita yang menyampaikan “Saya belum cukup baik” “Apa yang saya lakukan belum cukup”. Kata-kata itu sanggup muncul disebabkan kurangnya penghargaan orang bau tanah terhadap pencapaian-pencapaian kita. Apalagi kritikan tersebut sangat sulit dihilangkan dan sanggup membawa kerusakan yang lebih dalam bila dibiarkan begitu saja.

Kunjungi Konselor Terpercaya
Jika Anda mengalami depresi atau kecemasan yang disebabkan oleh kurangnya Personal Zone, ada baiknya untuk mengunjungi seorang konselor. Untuk terbuka dan membagi semua permasalahan kepada orang lain menyerupai psikolog atau konselor memang tidak mudah. Tetapi sanggup menjadi kerikil pijakan untuk mengatasi permasalahan berkaitan Personal Zone apalagi bila duduk kasus itu berkaitan dengan salah satu dari orang bau tanah Anda yang narsistik.

Membuat Batasan yang Wajar
Sebagian dari kita ada yang kesudahannya mencari jati diri dengan mencar ilmu hidup mandiri. Apalagi bila hal itu memang sanggup meminimalisir tekanan-tekanan yang tiba dari orang tua. Di samping itu Anda tetap sanggup tetapkan untuk mengunjungi orang bau tanah seminggu sekali atau sebulan sekali. Di sinilah Anda harus sanggup menguatkan diri lantaran tidak gampang terlepas dari kekuatan orang bau tanah yang membayangi kita selama bertahun-tahun. Kuncinya yaitu “Percaya pada dirimu sendiri”.

Berhenti Mengubah Orang lain, Ubahlah Dirimu Sendiri
Cobalah untuk tidak memikirkan “Seandainya saya begini…”, “Jika saja ibu saya tidak begitu…”, dan terimalah keadaan yang ada pada Anda dikala ini. Cobalah untuk kelilingi diri Anda dengan orang-orang yang mendukung impian dan impian Anda. Dengan begitu Anda sanggup mengubah diri Anda sendiri perlahan-lahan menjadi lebih baik.

Terkadang menciptakan personal zone dengan membatasi jarak antara kekerabatan Anda dengan orang lain termasuk pergi ke terapi, memahami masa lalu, dan menemukan cinta, belum cukup menciptakan diri Anda merasa aman. Hal ini membutuhkan waktu dan terkadang cukup usang hingga kesudahannya Anda merasa kondusif (secure). Menurut goresan pena oleh seorang psikolog berjulukan Dr. Pat Frankish perihal seorang perempuan yang tetapkan komunikasi dengan ibunya. Wanita tersebut ingin mempertahankan identitasnya dari seorang ibu yang narsistik lantaran hal itu melemahkan kekuatan hidupnya. Jika Anda membutuhkan Personal Zone menyerupai perempuan tersebut, janganlah merasa bersalah. Bukan berarti itu mengakibatkan Anda sebagai anak yang tidak berbakti, hanya saja Anda butuh kontribusi diri sebagai seorang individu secara utuh.


Referensi:
Jr. Thorpe. 2016. How to cope with a narcissitic mother. Artikel. Bustle. https://www.bustle.com/articles/197159-how-to-cope-with-a-narcissistic-mother
Mark Banschick. 2013. The Narcissistic Mother II. Artikel. Psychological Today. https://www.psychologytoday.com/blog/the-intelligent-divorce/201312/the-narcissistic-mother-ii

Sumber foto:
https://smediacacheak0.pinimg.com/originals/90/51/cf/9051cff77d60f7a4d71a5c7192c419ff.jpg

Let others know the importance of mental health !

Yuk, Intip Tips Atasi Harapan Balas Dendam!

“Ketika ingin balas dendam, galilah dua lubang – satu untuk dirimu sendiri.” – Douglas Horton

Peristiwa kriminalitas tragis sekarang kian marak terjadi di masyarakat. Tak hanya sekedar kejadian yang merugikan hak orang lain secara materi, fisik dan psikologis namun juga merugikan nyawa seseorang. Seperti pada akhir-akhir ini, media memberitakan banyak kejadian kriminalitas yang tidak sanggup diterima oleh logika sehat. Lalu, mengapa seseorang melaksanakan hal yang tersebut? Salah satu hal penyebabnya ialah adanya harapan untuk balas dendam.

Nah, mari mulai menganalisis diri sendiri! Apakah ketika ini Anda merasa murka pada seseorang dan hingga detik ini tidak sanggup melupakan perbuatan orang tersebut? Pernahkah tersirat dalam benak Anda untuk membalas perbuatan itu dengan hal yang buruk? Jika pernah, mungkin Anda perlu waspada. Anda lebih baik mencegah sikap negatif tersebut. Bila dipandang dari segala sisi, membalas kejahatan dengan kejahatan bukan hal yang sempurna untuk dilakukan. Jadi, mari atasi harapan balas dendam dengan tips berikut!

Menjadikan Balas Dendam Sebagai Motivasi Positif? Bisa saja!

Mengubah dendam menjadi motivasi yang baik bukanlah hal mudah. Terkadang kita ingin menyerang seseorang secara eksklusif untuk menyakiti dirinya. Alih-alih melaksanakan hal negatif, Anda bahkan menunjukkan bahwa Anda baik-baik saja dan tidak peduli dengan hal yang menyakiti Anda. Kerjakan hal konkret untuk sanggup mematahkan perkataan jelek orang tersebut. Buktikan bahwa diri Anda merupakan individu yang lebih baik dari apa yang ia katakan.

Rencanakan Tujuan Baru

Jika Anda menyampaikan balas dendam untuk keadilan, hal tersebut merupakan ajaran yang salah. Keadilan mempunyai unsur kehormatan dan kebajikan sedangkan dendam merupakan boomerang yang berunsur pada ego untuk mementingkan laba diri sendiri dan merugikan orang lain. Balas dendam akan membuat tujuan hidup yang baik semakin jauh. Tentu Anda tidak ingin terus menerus memikirkan orang yang menyakiti hati Anda, bukan? Adakah laba melaksanakan hal tersebut bagi masa depan Anda? Lebih baik rencanakan tujuan gres untuk masa depan Anda. Berusahalah jujur pada diri sendiri dan fokus dengan kebaikan di sekitar Anda.

Berpikir Sebagai Ilmuwan

Berpikir sebagai ilmuwan membuat Anda semakin kritis terhadap keputusan yang Anda ambil. Coba tuliskan efek apa saja yang akan terjadi pada Anda bila melaksanakan pembalasan terhadap orang lain. Apakah melaksanakan hal tersebut akan menawarkan dampak konkret bagi diri Anda dan orang di sekitar Anda? Jika tidak, Anda tidak perlu melakukannya. Balas dendam tidak mempererat tali persaudaraan, malah membuat relasi semakin renggang. Beranggapan bahwa permasalahan menjadi selesai padahal justru akan menjadi runyam. Merasa Anda akan menjadi lebih besar lengan berkuasa dan bijak, padahal sebaliknya. Apakah hidup akan semakin damai? Anda sanggup putuskan sendiri.

Memaafkan

Balas dendam merupakan keputusan dari kemarahan Anda sendiri. Oleh lantaran itu, cobalah membuka hati untuk memaafkannya. Memaafkan tentu sulit tapi menawarkan banyak laba bagi kita, lho. Memaafkan sanggup membuat Anda mengurangi motivasi untuk melaksanakan balas dendam, mengurangi motivasi untuk menghindarinya. Alhasil, Anda akan terpicu untuk merangkai perbuatan baik, meskipun Anda tahu seseorang telah menyakiti Anda.

Balas dendam hanya akan membuat Anda menjadi pengikut orang tersebut padahal mereka tidak mengingat perlakukan mereka terhadap Anda. Merendahkan orang lain akan membuat Anda lebih rendah lagi. Balas dendam terbaik ialah dengan menunjukan kesuksesan hidup Anda dan membuat hidup yang berkhasiat bagi orang banyak. Alangkah baiknya untuk membalas kejahatan dengan kebaikan. Dengan demikian, seseorang yang membuat Anda murka atau sakit hati sanggup meratapi perbuatannya dan bahkan mencar ilmu dari Anda. Mari hidup dengan bahagia!


Sumber data tulisan
https://www.psychologytoday.com/blog/chill-pill/201501/10-tips-reducing-anger

https://www.psychologytoday.com/blog/curious/201408/three-reasons-why-revenge-is-okay-and-forgiveness-is-easy

https://www.psychologytoday.com/blog/evolution-the-self/201402/don-t-confuse-revenge-justice-five-key-differences

Gambar:

http://i.huffpost.com/gen/3181356/images/o-ANGER-facebook.jpg

Let others know the importance of mental health !

Pengorbanan Sang Bintang Film Untuk Sebuah Inspirasi

“Butuh banyak energi untuk melepaskan diri dari tumpuan kehidupan Anda yang mungkin bersinggungan dengan huruf (yang dimainkan). Yang saya lakukan ialah menghapus hal-hal itu dan lalu mencari cara lain untuk tidak mengkhianati kekaguman saya terhadap huruf yang saya mainkan.”
(River Phoenix)

Sering kali ketika menonton film kita terhanyut dengan huruf yang dimainkan oleh sang aktor. Tidak jarang huruf yang dimainkan terasa sangat nyata, beberapa diantaranya menyerupai huruf Joker yang dimainkan oleh Heath Ledger dalam film Batman: Dark Knight, huruf Christy Brown di My Left Foot yang diperankan oleh Daniel Day-Lewis, dan huruf Wladyslaw Szpilman di film The Pianist yang diperankan oleh Adrien Brody. Ternyata huruf tokoh yang terlihat meyakinkan tersebut tidak didapat dengan mudah. Para bintang film butuh kerja keras ekstra untuk membangun huruf yang diperankan meskipun hal itu akan menghipnotis kehidupan langsung mereka. Beberapa kasus menceritakan aktor-aktor yang berakhir kematian diduga tugas mereka dalam film yang tidak bisa lepas dari kepribadian mereka. Kemudian timbullah pertanyaan, bagaimana tugas yang dimainkan oleh sang bintang film bisa menghipnotis kehidupan pribadinya? Dan bagaimana para bintang film menanggapi hal tersebut?

Memang, diyakini sulit sekali bagi seorang bintang film untuk melepaskan karakternya sehabis menghuni atau memakai huruf tersebut selama 15 jam sehari, atau bahkan untuk berbulan-bulan dan bertahun-tahun lamanya. Dalam kasus ini, ada istilah yang dinamakan Method Acting atau Metode Seni Peran. Metode ini tidak hanya dipakai untuk memasuki pikiran dan badan dari huruf yang diperankan, melainkan juga mengandung latihan-latihan secara fisik maupun mental yang akan membantu bintang film bisa terlepas dari huruf yang dimainkan. Metode seni tugas dipakai oleh bintang film untuk menciptakan emosi huruf yang mereka mainkan menjadi konkret dengan memanfaatkan pengalaman pribadi. Menurut Raymond Hamden, dokter Psikologi Klinis dan Forensik, tujuan metode ini ialah untuk mengelompokkan perasaan-perasaan para bintang film ketika mereka memainkan huruf lain sehingga mereka sanggup membawa perasaan pribadinya bila diperlukan untuk melengkapi huruf yang diperankannya. Tetapi ketika emosi ini tidak terkotak-kotak, hal itu sanggup mengganggu aspek kehidupan dan jiwa aktor. Efek psikologis yang biasanya muncul antara lain kelelahan emosional menyerupai takut, gelisah, kekurangan tidur, perubahan kepribadian, dan gangguan psikotik.

Hal ini lalu dipercaya bahwa ada korelasi yang berpengaruh antara akting dan reaksi psikologis terhadap akting. Namun, akan menjadi ancaman ketika emosi tersebut tidak dikontrol tanggapan gangguan sikap secara mendadak dan perubahan sikap (karakter). Terkadang untuk memainkan sebuah peran, para bintang film merubah tingkah lakunya dan mendorong mereka untuk menjadi seseorang yang absurd bagi sifat langsung mereka sendiri. Kesulitan untuk kembali ke tingkah lakunya sendiri menjadi perhatian besar bagi dunia akting hingga ketika ini.

Tulisan dari Profesor Goldstein dan Yale, Paul Bloom, mengungkapkan bahwa inti dari psikologi, contoh perilaku, dan teater/film ialah mereka melaksanakan hal yang sama yaitu memahami mengapa seseorang melaksanakan apa yang mereka lakukan, ruang lingkup tingkah laris kita, dan dari mana tingkah laris itu berasal. Seni tugas atau akting mendorong seseorang mengeksplor kemampuan pikiran dan emosi seseorang. Di mana hal tersebut entah Anda melakukannya (akting) atau menontonnya (film) menaruh pikiran-pikiran yang sebelumnya tidak pernah Anda pikirkan. Hal itu tentunya memiliki efek yang baik maupun jelek bagi kita semua.

Peran yang dimainkan oleh bintang film sanggup menghipnotis isi pikiran kita, entah itu sebuah ide atau pertanyaan gres wacana kehidupan. Sebagian orang mengobati kejenuhan mereka dengan menonton film, tidak jarang para bintang film yang berhasil memainkan tugas mereka memperlihatkan sumber ide dan kemampuan untuk mengubah cara pandang dan opini mereka. Hal itu pertanda satu hal, bukankah tugas bintang film dalam sebuah film memiliki efek yang vital, apalagi bila huruf itu bisa berafiliasi dengan emosi orang-orang di sekitar kita.


Referensi:
Artikel.https://www.quora.com/Is-it-possible-that-an-actor-or-actress-gets-affected-by-the-reel-life-character-they-are-playing-in-real-life-If-yes-how-do-they-get-out-of-it.Quora. 2016.
Hamden, Raymond. “Clinical and Forensic Psychology”. Interview. Dubai Today. Arabian Radio Network. Dubai. 14 April 2010. Radio.
Konin. “Acting Emotions: Shaping Emotions on Stage.” Amsterdam University Press, 2000. 89-102.
Psychological effects of method acting. Artikel. https://www.revolvy.com/main/index.php?s=Psychological%20effects%20of%20method%20acting. Revolvy.
How does the acting and the characters in psychological films affect people’s outlook on human behaviour and society: Side Effect. 2014. http://isabelspecialsubject.weebly.com/side-effects—actors-and-audience/side-effects

Sumber Foto:
https://i.ytimg.com/vi/rZf13QY1S2c/hqdefault.jpg

Let others know the importance of mental health !