Teori Cinta: 4 Teori Yang Menjelaskan Wacana Cinta

Cinta ialah emosi dasar manusia, tetapi memahami bagaimana dan mengapa hal itu terjadi bukanlah hal yang mudah. Bahkan, untuk waktu yang lama, para ilmuwan beranggapan bahwa cinta hanyalah sebuah ilmu tidak bisa mengerti. Tapi jangan khawatir, kita tetap bisa memahami apa itu cinta. Berikut ini ialah 4 teori cinta yang menjelaskan perbedaan antara cinta, suka (menyukai) dan ikatan emosional, mari kita simak;

1. Suka Vs Cinta

Psikolog Zick Rubin menjelaskan bahwa cinta yang romantis terdiri dari tiga unsur, yakni : keterikatan (attachment), kepedulian (caring) dan keintiman (intimacy). Keterikatan ialah kebutuhan untuk mendapatkan perhatian dan kontak fisik dengan orang lain. Kepedulian (caring) ialah kemampuan yang anda miliki untuk menghargai dan mengatakan kebahagiaan untuk orang lain. Sedangkan keintiman (intimacy) mengacu pada kebutuhan untuk menyebarkan pemikiran, impian dan perasaan dengan orang lain.

Skala Rubin perihal CintaBerdasarkan definisi tersebut, Rubin merancang skala perihal menyukai dan mengasihi (Rubin’s Scales of Liking and Loving). Skala ini mengungkapkan apakah seseorang mengasihi atau hanya sebatas menyukai. Dalam sebuah studi, Rubin meminta sejumlah responden untuk mengisi skala, berdasarkan bagaimana perasaan mereka kepada pasangan dan teman. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa perasaan terhadap sahabat mempunyai skor tinggi pada skala menyukai dan perasaan terhadap pasangan mempunyai nilai tinggi pada skala mencintai.

Cinta bukanlah konsep yang kasatmata dan sebab itu sulit untuk diukur. Namun, Rubin’s Scales of Liking and Loving mengatakan cara untuk mengukur perasaan cinta yang kompleks.

2. Kasih Sayang Vs Gairah

Menurut profesor psikologi Universitas Hawaii, Elaine Hatfield, ada dua tipe dasar cinta, yaitu cinta kasih sayang (compassionate love) dan gairah cinta (passionate love). Cinta kasih sayang ditandai dengan adanya saling keterikatan, saling menghormati, menghargai, kepedulian dan kepercayaan. Kasih sayang biasanya tumbuh berkembang dari perasaan saling pengertian dan rasa saling menghargai satu sama lain.

Baca :   Impotensi dalam Pandangan Psikologi

Cinta?Sedangkan cinta yang dilandasi gairah (passionate love) ditandai dengan emosi yang intens, daya tarik seksual, kecemasan dan afeksi. Ketika cinta terbalaskan (reciprocated love), orang merasa bangga dan bahagia. Namun kalau cinta tak terbalaskan (unreciprocated love), akan menjadikan perasaan sedih, berkecil hati dan bahkan putus asa.

Hatfield memperlihatkan bahwa cinta yang didasari oleh gairah ialah fana, sebab dipengaruhi fungsi fisiologis pada manusia. Seperti anda merasa berangasan kalau berada di depan seorang perempuan elok atau lelaki keren. Menurut Hatfield, idealnya, cinta ialah kekerabatan yang menggabungkan antara kenyamanan dan kasih sayang dengan gairah itu sendiri. Sehingga kekerabatan antara pasangan akan bertahan usang dan terhindar dari problem selingkuh maupun perceraian.

3. Teori Roda Warna perihal Cinta

Pada tahun 1973, John Lee dalam buku klassik-nya The Colors of Love, menganalogikan tipe cinta dengan teori perihal roda/lingkaran warna (color wheel/color circle), yakni sebuah ilustrasi absurd perihal keterkaitan antara warna-warna primer, warna sekunder dan warna komplementer (lihat klarifikasi color wheel disini).

Color WheelSama menyerupai ada tiga warna utama, Lee menjelaskan bahwa ada tiga tipe utama dari cinta, yaitu ialah Eros, Ludos dan Storge. Eros ialah perasaan cinta kepada seseorang yang dianggap paling ideal. Ludos menganggap cinta sebagai sebuah permainan, sedangkan storge menganggap cinta sebatas persahabatan.

Sama halnya dengan analogi color wheel, cinta juga merupakan kombinasi antara Eros, Ludos dan Storge. Kombinasi tersebut antara lain;

  1. Mania (Eros + Ludos) = Cinta yang obsesif (Obsessive love);
  2. Pragma (Ludos + Storge) = Cinta yang realistis dan mudah (practical love);
  3. Agape (Eros + Storge) = Cinta tanpa pamrih (Selfless love)

4. Teori Segitiga perihal Cinta

Cinta segitiga yang dimaksud disini bukan yang sering kita dengar; adanya pihak ketiga dalam sebuah hubungan. Melainkan tiga komponen cinta (triangular theory of love) berdasarkan Robert Sternberg. Sternberg menjelaskan bahwa ada tiga komponen cinta, yaitu : keintiman (intimacy), gairah (passion) dan kesepakatan (commitment).

  1. Keintiman – Yang mencakup perasaan keterikatan, kedekatan, keterhubungan, dll.
  2. Passion – Yang mencakup antara cinta yang romantis dan daya tarik seksual.
  3. Komitmen – Yakni keputusan untuk tetap bersama pasangan dalam waktu yang panjang.

Baca :   Lesbianisme, Gaya Hidup atau Abnormalitas Seksual?

triangular theory of love
Kombinasi yang berbeda dari ketiga komponen menghasilkan aneka macam jenis cinta. Misalnya, kombinasi keintiman dan kesepakatan dalam cinta kasih penuh kasih sayang (compassionate love), sedangkan kombinasi gairah dan keintiman menjadikan gairah cinta (passionate love).

Sternberg memperkenalkan istilah cinta tepat (consummate love) untuk menggambarkan kombinasi antara keintiman, gairah dan komitmen. Hubungan yang dibangun pada dua individu akan lebih tepat kalau didasarkan pada kombinasi ketiganya. Meskipun begitu, Sternberg menyangsikan adanya cinta yang tepat di dunia ini, bagaimana dengan anda?

Ada beberapa teori-teori cinta yang belum admin lampirkan. namun beberapa teori cinta diatas paling tidak bisa menjelaskan perihal cinta yang selama ini dianggap barang “abstrak”.

Rujukan :

  • Rubin, Zick. 1970. Measurement of romantic love. Journal of Personality and Social Psychology
  • Hatfield, E., & Rapson, R. (2005). Love and sex: Cross-cultural perspectives. Needham Heights, MA: Allyn & Bacon.
  • Lee JA (1973). Colours of love: an exploration of the ways of loving. Toronto: New Press
  • Robert J. Sternberg, “Triangulating Love”, in T. J. Oord ed. The Altruism Reader (2007)

Curhat: Melepaskan Kekhawatiran Atas Cinta Dan Perasaan Bersalah, Bagaimana Caranya?

AFA, 22 tahun
Salam hormat, saya mahasiswa tingkat final yang akan lulus dan final akhir ini saya sering berpikir perihal insiden kejadian yang telah terjadi selama saya kuliah. Namun yang paling sering saya pikirkan final akhir ini ialah sebuah insiden yang bekerjasama dengan cinta.

Dulu dikala lulus SMA, saya agak menyesal sebab diterima di universitas di Solo yang kini saya akan lulus darinya, dan saya rasa orangtua saya pun begitu. Saya pun sempat berpikir untuk mencoba pindah kuliah ke institusi pendidikan lain dan orangtua pun sebetulnya menghendaki saya untuk masuk kesitu. Sayang, di tahun itu ternyata institusi tersebut tidak membuka lowongan penerimaan mahasiswa baru. Mau tak mau saya pun menjalani kuliah di universitas yang sekarang.

Disaat itulah saya tertarik kepada salah satu sahabat kelas saya, namun dikala itu saya belum terlalu merasakannya, hanya semacam perasaan tertarik saja. Waktu berlalu dan usang kelamaan sesudah saya berusaha berinteraksi dengannya, saya merasa kalau saya jatuh cinta padanya.

Namun sebagai seorang introvert, saya tak berani mengungkapkannya. Lama kelamaan sebab dia, saya menikmati kuliah di sini dan melupakan niat untuk pindah. Kemudian sebuah insiden pun terjadi. Di suatu ahad saya menerima telepon dari ibu saya, menanyakan kabar saya dan memberitahu kalau isntitusi yang dulu sudah membuka lagi lowongan penerimaan mahasiswa gres dan menanyakan apakah saya akan mendaftar. Saya tahu kalau ibu saya berharap saya akan mendaftar ke institusi itu, namun saya pada dikala itu menolaknya. Dalam benak saya salah satu alasan saya menolak undangan ibu saya ialah sebab si sahabat saya yang saya sukai itu, namun saya tak mengatakannya.

Kurang lebih 3 hari kemudian di pagi hari saya mendapatkan telepon dari bude saya menyampaikan bahwa kondisi kesehatan ibu saya memburuk. Tak usang kemudian saya mendapatkan pesan singkat dari adik saya menyampaikan bahwa ibu sudah tiada. Pikiran saya pun kemudian menjadi tak karuan. Saya pribadi menaiki sepeda motor saya dan menempuh perjalanan dari Solo ke Purwokerto dengan wajah dipenuhi air mata dan pikiran yang kacau.

Saking kacaunya di jalan saya mengalami kecelakaan, namun sebab pikiran saya ingin pulang terus, tidak saya hiraukan luka luka darikecelakaan tersebut dan tetap mengendarai motor saya hingga kerumah. Sampai dirumah, dikala melihat ibu saya sudah dibalut kain, saya menangis sejadi jadinya. Saya sempat merasa depresi selama dua hari hingga di hari ketiga, saya bermimpi mengenai sahabat saya tadi.

Kondisi saya pun berangsur pulih karenanya, dan saya pun kembali melanjutkan studi saya. Tak ingin kehilangan orang yang saya cintai lagi, saya punmengutarakan perasaan saya pada sahabat saya tersebut. Karena dulu ia sempat bercerita pada saya bahwa ia tidak ingin pacaran selama kuliah. saya berkata bahwa saya mau menunggu ia dan akan melamarnya. Saya bertanya apakah ia mau dan ia jawab dengan kata ‘insyaallah’. Hati saya terasa berbunga bunga sebab merasa mendapatkan balasan yang saya tunggu.

Kesalahan pun terjadi. Saya jadi merasa bahwa saya sudah memilikinya dan rasa khawatir akan kehilangan menimbulkan saya selalu ingin tahu keadaannya. Namun ia tak merespon banyak dari pertanyaan pertanyaan saya. Sampai satu hari sebab usang tak mendengar kabarnya saya pun mendatangi kosannya, mengirim pesan singkat kepadanya menyampaikan saya sudah didepan kosnya dan menunggunya. Setelah 2 jam menunggu ia pun keluar, dan pribadi saya datangi. Raut mukanya terlihat tidak begitu bahagia mengetahui saya mendatanginya. Pertanyaan saya dijawab sekenanya dan ia sangat terlihat ingin segera pergi. Menyadari hal itu saya pun pribadi pamit pulang. Sampai di kosan di ponsel saya ada pesan singkat darinya yang menyampaikan ia tidak suka dengan cara saya tersebut, dan ditutup dengan permintaan supaya saya tidak lagi mengejarnya.

Perasaan saya kembali kacau balau, rasa penyesalan muncul diiringi dengan kenangan akan ibu saya dan permintaannya. Saya merasa sangat stres dan kehilangan kendali. Beberapa perabotan di kosan saya hancurkan. Saya merasa benar benar hancur, namun saya masih menyimpan rasa padanya. Seminggu setelahnya, saya gres merasa bersalah akan tindakan saya yang dengan lancang mendatanginya. Saya hingga pada titik dimana saya kemudian memahami bahwa cinta itu tak harus memiliki. Saya berusaha meminta maaf dan berharap kita tetap sanggup berteman. Saya menjelaskan segala hal yang terjadi namun tampaknya ia tidak menanggapinya dan memaafkan saya dengan setengah hati.

Saya kembali dilanda kebingungan dan kekhawatiran. Apalagi setelahnya sikapnya pada saya berbeda dengan sikapnya pada sahabat sahabat yang lain, dan hal itu terus berlanjut hingga sekarang. Apa yang harus saya lakukan untuk sanggup terlepas dari rasa khawatir itu dan sanggup kembali normal dalam berpikir maupun bertindak? Terima kasih

Jawaban:
Terima kasih saya ucapkan setulus hati kepada sdr. AFA atas kesedian Anda membuatkan dongeng bersama kami di Pijar Psikologi. Tak lupa saya secara pribadi memberikan permohonan maaf sebesar-besarnya atas keterbatasan saya, sehingga menciptakan Anda harus menunggu respon dari kami. Semoga kita semua senantiasa diberikan kesabaran dalam menghadapi segala hal. Juga saya sampaikan ucapan selamat atas kelulusan Anda yang sudah berada di depan mata. Sungguh hal itu ialah kabar gembira, sekaligus pintu gerbang untuk seutuhnya berkontribusi mencapai kebermanfaatan seluas-luasnya.

Sdr. AFA, ada hal yang sepenuhnya berada di luar kuasa manusia, salah satunya ialah kematian. Tidak ada yang sanggup dilakukan oleh siapapun ketika waktu ajalnya tiba. Saya berharap ibu mendapatkan daerah terbaik di sisi Sang Maha Pengasih dan Penyayang. Saya pun sanggup mencicipi adanya penyesalan pada diri Anda mengenai cita-cita ibu yang belum Anda tunaikan untuk mendaftar ke institusi pendidikan tersebut. Oleh sebab itu, ijinkan saya mengajak Anda untuk melihat dari sudut pandang yang lebih lebar.

Institusi pendidikan sejatinya ialah wadah untuk menyiapkan seseorang terjun ke masyarakat. Dengan bekal keahlian dan keterampilan yang dimiliki, dibutuhkan orang tersebut sanggup mampu bangun diatas kaki sendiri dan berdikari mengusung kehidupannya. Artinya, institusi pendidikan merupakan jalan untuk menjadi seseorang yang sukses dalam kehidupan bermasyarakat nantinya. Demikian pula, apa yang diinginkan orangtua sejatinya bukanlah semata Anda masuk ke institusi pendidikan itu, melainkan keinginan supaya anda kelak sanggup hidup sanggup bangun diatas kaki sendiri secara layak, hanya saja orangtua (terutama ibu) Anda menganggap institusi tersebut sanggup membawa Anda ke arah itu. Kabar baiknya adalah, kesuksesan seseorang tidak hanya ditentukan oleh almamater sekolahnya. Semua orang punya hak dan kesempatan untuk berdikari di dunia ini. Artinya Anda masih sanggup menunaikan keinginan ibu Anda untuk menjadi sosok sanggup bangun diatas kaki sendiri dan sukses. Anda sanggup mulai merencanakan karier atau perjuangan masa depan Anda, tapaki planning tersebut dengan sungguh-sungguh, pasti Anda akan mendapatinya. Juga lupa pula untuk senantiasa mendoakan orangtua, di mana doa tersebut merupakan tanda bakti Anda kepada keduanya.

Sdr. AFA, saya apresiasi keberanian Anda untuk melamar ia yang menjadi kecondongan hati Anda. Namun, sejatinya keberanian lelaki dalam hal cinta tidak dibuktikan dengan menyampaikan “aku cinta kamu/aku akan melamarmu” pada sang pujaan hati, tapi memberikan “saya siap menikahi putri Bapak” kepada orangtuanya. Sebagaimana Anda sampaikan, bahwa menyatakan janji akan melamar bukan berarti telah melegalkan cinta sepasang hati. Bukan arti telah saling memiliki. Cinta tak sanggup dipaksakan, sebagaimana Anda mengakui kesalahan Anda sendiri. Semoga hal tersebut sanggup menjadi pelajaran bahwa merasa mempunyai apa yang bukan miliknya ialah kesalahan fatal, dan dalam hal cinta kepemilikan sah hanya diperoleh melalui jenjang pernikahan. Maka langkah konkrit yang sanggup Anda lakukan ialah mempersiapkan dan memantaskan diri, kemudian temui orangtuanya untuk membahas planning masa depan Anda.

Hanya saja, cinta kadang bertepuk sebelah tangan. Itu pun harus selalu Anda persiapkan, bahwa kadang cinta sanggup bertatut tapi kadang pula tak bersambut. Sesungguhnya itu merupakan hal yang umum terjadi. Jika cinta tak bersambut maka move on ialah solusinya. Kunci move on ialah dengan membatasi interaksi dengannya (kecuali sangat terpaksa, dan percayalah bahwa ia sudah punya keluarga dan banyak sahabat yang sanggup menjaga/mengawasinya, bukan kewajiban utama Anda untuk melaksanakan itu), mencari kegiatan produktif untuk mengisi kehidupan Anda, dan selebihnya biarkan waktu yang mengobati. Jika Anda berbesar hati dan membuka diri, maka Anda akan dapati orang-orang gres masuk dalam kehidupan Anda, yang salah satunya sanggup jadi ialah sosok yang kelak akan menjadi pendamping Anda.

Sebagaimana telah saya sampaikan sebelumnya bahwa ada hal-hal di luar kuasa manusia, kematian salah satunya, dan jodoh pun sama. Jika Anda merasa sudah menemukan benih cinta baru, maka hal konkrit yang sanggup Anda lakukan ialah mempersiapkan diri (mantapkan karier dan visi berkeluarga), dekati Sang Pemilik Cintanya (melalui doa dan upaya proses kesepakatan nikah yang sesuai tuntunan-Nya), sampaikan pada orangtuanya, dan bila Dia Pemilik Takdir berkenan, maka sang pujaan hati akan menjadi pasangan Anda.

Terima kasih telah berbagi.

Salam hangat dari kami,

Pijar Psikologi.

(Editor: Koes Ayunda Zikrina)


Sumber Foto:
conduct.ucr.edu

Let others know the importance of mental health !

Fakta Menarik Seputar Kebutuhan Insan Akan Rasa Cinta Dan Cita-Cita Untuk Dimiliki

“Saya insan dan saya butuh dicintai sama ibarat orang lain!”

Semandiri-mandirinya seseorang, niscaya dia mempunyai harapan untuk mempunyai korelasi sosial dimana dia merasa dicintai dan dimiliki oleh seseorang, betul?

Menurut Abraham Maslow, seorang tokoh psikologi pelopor teori Hirarki Kebutuhan, dikala seseorang telah memenuhi kebutuhan fisiologisnya (seperti makan, minum, atau tidur) dan kebutuhan akan keamanan (misal, pekerjaan yang layak), maka dia akan berusaha memenuhi kebutuhan sosialnya akan cinta dan dimiliki. Ketika kebutuhan ini tidak terpenuhi, individu akan mulai merasa kesepian, bahkan depresi.

Berikut fakta-faktanya!

Cinta atau kasih sayang sanggup diperoleh seseorang dari keluarga, pasangan, atau teman

Siapa bilang, cinta hanya sanggup diperoleh dikala kita mempunyai pasangan? Kita sanggup memenuhi kebutuhan ini dari orang-orang terdekat kita juga, kok! Seperti dari keluarga maupun sahabat. Intinya, dari semua orang yang berinteraksi dengan kita.

Cinta terpenuhi dalam bentuk dukungan, penerimaan, kepercayaan, serta kehadiran secara fisik dan psikis

Dukungan dari orang-orang terdekat sanggup menciptakan kita merasa dicintai dan dipedulikan. Apalagi, dikala dukuegan tersebut diberikan melalui kehadiran secara langsung. Terkadang kehadiran secara fisik saja tidak cukup menciptakan orang merasa dikasihi. Apa gunanya hadir secara fisik, tapi pikirannya tidak bersama kita?

Lakukan interaksi dengan keluarga, lawan jenis, teman, masyarakat, dan kelompok keagamaan

Singkatnya, kebutuhan akan cinta dan dimiliki ini sanggup dipenuhi dikala kita memperluas interaksi. Melalui interaksi, kualitas korelasi seseorang sanggup semakin baik. Tentu saja, hal yang dikomunikasikan haruslah yang saling membangun dan mendukung.

Kadar terpenuhi atau tidaknya, berbeda satu dengan yang lain

Misal, dengan mempunyai keluarga yang menyenangkan, A sudah merasa dirinya dicintai dan dimiliki, sehingga dia tidak perlu repot-repot mencari sumber lain lagi. Sedangkan bagi B, kebutuhan dicintai dan dimilikinya gres akan terpenuhi dikala dia mempunyai teman-teman dan pacar. Jadi, tidak ada standar pastinya, yang terpenting yaitu apakah kita merasa sudah cukup dicintai dan dimiliki, atau masih kurang?

Nah, itulah fakta-fakta menarik seputar kebutuhan insan akan cinta dan perasaan dimiliki. Kebutuhan ini yaitu salah satu kebutuhan dasar manusia.

Ketika kebutuhan ini tidak terpenuhi, tentu masuk akal jikalau Anda sering merasa kehilangan atau kosong. Terkadang cinta yaitu alasan yang menyebabkan hari-hari Anda lebih berwarna!


Sumber data tulisan:

1.Need for Love and Belongingness; Humanistic Psychological Approach (http://www.academia.edu/4831401/NEED_FOR_LOVE_AND_BELONGINGNESS_Humanistic_Psychological_Approach)
2.Maslow’s Hierarchy of Needs (http://www.simplypsychology.org/maslow.html)

Sumber foto:
www.zigya.com

Let others know the importance of mental health !

The Holiday : ‘Move On’ Bukan Hanya Menemukan Seseorang Yang Baru

“Untuk sebagian orang, sulit dipahami bahwa cinta bisa memudar. Bagi yang lainnya cinta hilang begitu saja, tetapi tentu saja, cinta juga bisa ditemukan. Kemudian ada jenis cinta yang lainnya, yang paling kejam, yang hampir membunuh korbannya, itu disebut cinta tak terbalas.”- Iris Simpkins

Judul: The Holiday
Pemain: Cameron Diaz, Kate Winslet, Jude Law, Jack Black, Rufus Sewell, Edward Burns
Genre: Drama
Sutradara: Nancy Meyers
Tanggal Rilis: 8 Desember 2008
Durasi: 136 menit
Produksi: Relativity Media & Waverly Firms

Terkadang, ketika menjalani suatu korelasi khusus dengan seseorang tidak selalu berjalan mulus ibarat yang kita rencanakan. Hingga kesudahannya melepaskan menjadi pilihan yang harus kita lakukan. Walau melepaskan merupakan hal yang sulit, sekalipun orang tersebut pernah menyakiti kita. Seperti halnya dalam film The Holiday ini.

Film The Holiday menceritakan perihal dua orang wanita yang bertukar rumah melalui internet selama dua minggu. Keduanya sama-sama ingin menenangkan diri sesudah mengalami patah hati. Perempuan pertama berjulukan Iris Simpkins (Kate Winslet), seorang wanita asal Inggris yang bekerja di harian The Daily Telegraph sebagai kolumnis.

Menjelang Natal, tempatnya bekerja mengadakan suatu pesta. Di pesta tersebut beliau bertemu dengan Jasper Bloom (Rufus Sewell), orang yang dicintainya selama tiga tahun. Jasper pun memperlakukan Iris dengan begitu manis. Hingga di tengah pesta diumumkan kalau Jasper telah bertunangan dengan wanita lain. Bahkan akan segera menikah.

Perempuan kedua berjulukan Amanda Woods (Cameron Diaz), seorang wanita asal California, Amerika Serikat yang mempunyai perusahaan di bidang film. Tidak jauh berbeda dengan Iris, Amanda pun mengalami patah hati alasannya sang kekasih, Ethan Ebbers (Edward Burns) menduakan dengan wanita lain. Patah hati itu menciptakan Iris dan Amanda tetapkan bertukar rumah untuk menenangkan diri.

Dan siapa sangka, pertukaran rumah itu menciptakan mereka bertemu dengan seseorang gres dalam hidup mereka, seseorang yang bisa mengobati patah hatinya. Iris bertemu Miles (Jack Black, sobat Ethan Ebbers) ketika Miles ingin mengambil barang yang tertinggal di rumah Amanda. Sementara Amanda bertemu dengan Graham, abang kandung Iris, ketika Graham berkunjung ke rumah Iris. Pertemuan itu menciptakan Iris dan Amanda kembali menemukan cinta.

Film The Holiday ini memberikan banyak pesan mengenai cinta, khususnya perihal melepaskan seseorang yang pernah menyayangi dan kita cintai. Putus cinta dan patah hati seringkali menciptakan seseorang berusaha keras melepas dan melupakan orang yang pernah mereka cintai. Terlebih kalau orang tersebut pernah menyakiti kita, melepaskannya merupakan pilihan yang tepat.

Seperti Iris dan Amanda yang berusaha melepas perasaannya dari orang yang pernah mereka cintai. Berbagai cara mereka lakukan termasuk menenangkan diri sampai melintasi negara lain. Tidak disangka mereka sanggup bertemu dengan orang baru, orang yang menciptakan mereka kembali memaknai cinta.

Saat ini, melepaskan atau melupakan orang yang pernah kita cintai seringkali diistilahkan sebagai move on. Dan indikator keberhasilan move on bagi kebanyakan orang ketika kita bertemu atau kembali menjalin korelasi khusus dengan seseorang yang baru. Namun, intinya move on tidak sekadar itu.

Move on merupakan final suatu proses ketika seseorang telah mendapatkan masa lalunya dan siap menghadapi pengalaman baru. Dan indikatornya ditandai dengan berkurangnya perasaan dan negatif perihal putus cinta. Lebih dari itu, move on sanggup diartikan dengan penerimaan masa kemudian yang kita lakukan. Seperti Iris yang telah mendapatkan kisah cintanya dengan Jasper berakhir dan mendapatkan Jasper akan menikah dengan wanita lain.

Pada dasarnya film The Holiday mengajarkan untuk mendapatkan masa kemudian yang kita anggap menyakitkan. Selain itu, mendapatkan kenyataan untuk bangun dari rasa murung yang kita rasakan sesudah putus cinta dan patah hati. Ada hal baik dari putus cinta dan patah hati yang harus kita lihat dibanding terus berkutat pada kesedihan.


Sumber data tulisan

Rumondor, Pingkan C.B. 2016. Bukan Move On Biasa: Bikin Langkahmu Lebih Bermakna. Tangerang: Penerbit Litterati.

Sumber gambar: https://fanart.tv/fanart/movies/1581/movieposter/the-holiday-52349d628256b.jpg

Let others know the importance of mental health !

Tips: Siapa Bilang Bila Move On Itu Tidak Mungkin?

‘Here’s to the Future because I’m done with the Past..’ – Anonymous’

Patah hati memang begitu menyakitkan. Tidak hanya kehilangan sebuah hubungan, tetapi juga kehilangan cita-cita yang dirancang untuk masa depan. Ketika sebuah kesepakatan berakhir, semuanya begitu mengecewakan. Rasa sakit bahkan akan lebih mendalam ketika kita mendapati ia sudah mempunyai kekasih lagi dan kita masih saja memikirkan dirinya.

Patah hati tidak hanya membuat kita terluka secara psikis namun juga fisik.1 Tentu saja sanggup besar lengan berkuasa negatif bagi aktivitas, kekerabatan dengan keluarga dan teman, bahkan bagaimana kita memandang diri sendiri. Kembali ibarat dulu tanpa pasangan memang begitu sulit, namun penting bagi Anda untuk mengingatkan diri sendiri bahwa Anda juga berhak ‘hidup’ kembali!

Tak jarang kita mendengar kalimat, ‘Ayo dong, Move On!’. Ya, tentu gampang untuk mengatakannya, tapi kenyataannya tidak sesederhana itu. Untuk itu, artikel ini akan membantu Anda untuk segera move on dengan cara berikut

1. Belajar untuk berjiwa besar

Pada awalnya, sangat masuk akal kalau Anda merasa bingung, murka dan kecewa akan semua hal dalam satu waktu. Semua hal terjadi begitu cepat, dimana kemarin Anda begitu istimewa, namun sekarang sebaliknya. Anda perlu mendapatkan bahwa perpisahan merupakan proses hidup yang juga dirasakan setiap orang. Berhenti menyalahkan bahwa ‘patah hati’ lah yang membuat Anda tidak garang atas apapun! Perlu Anda ketahui bahwa ada satu hal yang paling kuat daripada rasa takut, yaitu memaafkan. Memaafkan akan membuat cita-cita yang membuat kita percaya bahwa akan tiba sesuatu yang lebih baik.2 Jadikan pengalaman berharga tersebut untuk langkah menjalin kekerabatan di masa depan kelak.

2. Alihkan pikiran ketika mengingat dirinya

Kenangan bersama dirinya merupakan bab yang tidak akan gampang untuk dilupakan. Cobalah untuk tidak menghubunginya, berhenti ingin tau dengan media sosialnya atau men-cek daftar dialog Anda dengan dirinya. Hindari setiap dialog menyangkut dirinya yang bisa membuat Anda semakin kaya infomasi dan semakin sulit menghadapinya. Dengarkanlah musik menyenangkan, menggambar, mulai menulis dan membaca buku humor untuk menyegarkan pikiran Anda. Bermeditasi selama 15 menit juga bisa Anda lakukan untuk membuat pikiran lebih rileks.3 Cara ini tentunya akan membuat langkah Anda semakin lebih baik.  

3. Cintai dirimu dengan berkarya dan bersosialisasi

Jangan coba-coba mengurung diri!4 Lakukan kegiatan gres dan berkaryalah untuk resolusimu di tahun ini. Mulai untuk bersosialisasi untuk memulai petualanganmu. Rutinitas yang padat dan mengasyikkan tidak akan menunjukkan celah bagi Anda untuk memikirkan dirinya. Kabar baiknya, Anda siap untuk menjadi diri sendiri lagi.

4. Membuka hati untuk orang lain

Ketika yang lain pergi, kita berharap akan tiba seseorang yang bisa membuat hari-hari kita menjadi lebih istimewa. Membangun sebuah kekerabatan kembali memang tidak mudah, namun kita harus menunjukkan kesempatan pada diri kita untuk menemukan yang lebih baik, bukan? Ingat, bahwa sebuah kekerabatan yaitu proses, kalau berakhir, mencar ilmu untuk membangunnya kembali. Jatuh cinta akan menunjukkan efek yang besar bagi Anda. Anda menjadi lebih energik, percaya diri dan mempunyai perasaan yang menyenangkan sepanjang waktu.5 Hm, semakin gampang untuk move on, kan?

Ketika Anda mulai menghadapi dan mendapatkan semuanya, Anda akan menjadi langsung yang merasa lebih baik dengan perasaan Anda sendiri. Jika dirinya saja sudah mempunyai kebahagiaannya, Anda juga harus demikian. Jika orang lain juga bisa untuk bangkit, Anda juga bisa! Yuk, maju selangkah demi selangkah dan biarkan semuanya berlalu. Masih mau bilang move on itu mustahil terjadi? Selamat mencoba!


Sumber Data Tulisan

1Dikutip dari : Healing For A Broken Heart (www.cindiechavez.com)

2Dikutip dari : https://psychcentral.com/blog/archieves/2010/02/14/12-ver-breakup

4Dikutip dari : Minding A Broken Heart (www.mindfulhub.com)

5Dikutip dari : The Breakup Cleanse (www.lovesicklove.com)

Sumber Gambar :

www.ourcognitio.com

Let others know the importance of mental health !

Fakta-Mitos Seputar Move-On Sesudah Putus Cinta

“Merelakan seseorang yang pergi berarti kita hingga pada kesadaran bahwa beberapa orang ialah bab dari hidup tapi bukan bab dari takdir” – Steve Maralobi

Putus cinta merupakan sebuah momen yang sanggup dialami insan dalam banyak sekali rentang kehidupan, mulai dari yang berusia remaja hingga dewasa. Salah satu hal yang lazim dibahas sehabis seseorang putus cinta ialah move-on. Secara bahasa, move-on diartikan sebagai berpindahnya seseorang ke suatu tempat, aktivitas, atau subjek lain[1]. Lebih jauh, terdapat beberapa anggapan umum mengenai move-on, khususnya hubungannya dengan gender. Mungkin Anda pernah mendengar apabila pria sedang patah hati maka ia akan segera mencari pasangan lain, wanita yang nafsu makannya bertambah sehabis berpisah dengan pasangan, dan masih banyak lagi. Meskipun demikian, apakah anggapan tersebut benar adanya? Atau hanya mitos belaka? Yuk simak lebih lanjut ulasan di bawah ini!

  1. Kesedihan Mendalam

Terdapat anggapan bahwa wanita mengalami kesedihan atau tekanan psikologis yang lebih dalam daripada laki-laki. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Carin Perilloux dan David Buss, hal tersebut memang terbukti[2]. Meskipun demikian, dalam mengartikan hasil penelitian tersebut, perlu memerhatikan banyak konteks contohnya karakteristik pasangan yang dianggap pihak wanita sebagai sosok yang sangat baik. Selain itu, wanita sanggup merasa lebih murung kalau dirinya berada pada posisi yang ditinggalkan, khususnya secara sepihak. Dengan demikian, anggapan bahwa wanita mencicipi kesedihan yang lebih dalam daripada pria tidak sanggup disamaratakan ya!

 

  1. Tindakan Maladaptif sebagai Strategi Move-On

Pernahkah Anda mendengar bahwa wanita akan terlibat lebih banyak pada sikap maladaptif sehabis putus cinta dibanding laki-laki? Tindakan maladaptif ialah tindakan yang sanggup membahayakan diri sendiri maupun orang lain. Baik pria maupun wanita sanggup melaksanakan perbuatan maladaptif, terutama bagi mereka yang mengutamakan nilai diri pasangan ibarat kelebihan fisik atau kemampuan intelektual[3]. Tindakan ini ditengahi oleh perasaan murung atau tekanan psikologis yang mendalam. Dengan demikian, seseorang yang mengutamakan nilai diri pasangan akan mengalami kesedihan yang mendalam dan sanggup berakhir pada sikap maladaptif, ibarat belanja berlebihan, menguntit mantan pasangan, bahkan hingga bunuh diri.

 

  1. Kepatutan dalam Menjalin Hubungan Baru

Pernahkah Anda mendengar anggapan bahwa menjalin kekerabatan romantis gres segera sehabis mengalami putus cinta itu tidak baik? Orang-orang mungkin akan menganggap bahwa kita belum siap alasannya kita sendiri belum tuntas dalam mengevaluasi apa yang salah dari kekerabatan kemudian atau apa yang bahu-membahu kita butuhkan. Meskipun demikian, sebuah penelitian yang dilakukan oleh Braumbaugh & Farley, hebat dalam psikologi mengenai kekerabatan antar manusia, menyebutkan bahwa kekerabatan gres yang segera dijalin tersebut kuat pada kesejahteraan psikologis, penilaian diri yang meningkat, dan penghargaan terhadap pasangan baru. Selain itu, penelitian lain oleh Spielmann, MacDonald, & Wilson, para peneliti psikologi dari Kanada, menyebutkan bahwa seseorang yang mempunyai kecemasan dalam kekerabatan akan lebih gampang mengatasi kecemasan akhir pasangan lamanya saat mereka membentuk kekerabatan baru[4].

 

  1. Usaha untuk Melupakan Kenangan

Beberapa orang mengartikan bahwa move-on berarti waktunya melupakan seseorang yang telah berpisah dengan kita, bahkan hingga berefek pada kebencian.  Apakah hal tersebut bijak untuk dilakukan? Ternyata tidak selalu. Mel Schwartz, spesialis terapi psikologi, disebutkan bahwa move-on dapat dijadikan sebagai dasar untuk kita mencar ilmu dan berkembang dari masa lalu, tentunya dengan cara-cara yang baik[5]. Kita sanggup melupakan keburukan dari apa yang kita alami namun jangan hingga hal tersebut menjadi penghalang kita untuk berbuat baik kepada mantan pasangan.

 

Kita sudah tahu lebih banyak mengenai dinamika move-on melalui klarifikasi psikologis. Berpisah dengan seseorang yang kita cintai dengan banyak sekali alasan terkadang menimbulkan bekas yang dalam, bahkan bagi beberapa orang hal itu masih terasa hingga bertahun-tahun setelahnya. Meskipun demikian, hidup harus terus berjalan, bukan? Jadikanlah momen move-on sebagai pembuktian bahwa diri kita kuat dan bisa untuk tidak terlarut dalam kesedihan dengan sangat dalam. Hindarilah cara move-on yang justru akan merugikan diri sendiri dan orang lain alasannya sesungguhnya masih banyak orang yang mengharapkan kita untuk melaksanakan hal-hal yang lebih besar. Mulailah mencari kegiatan-kegiatan gres yang positif dan menciptakan kualitas hidup kita yang lebih baik. Selain itu, jangan enggan untuk mendampingi orang-orang di sekitar kita untuk menciptakan  masa move-onnya menjadi berarti. Yuk move-on ke hal-hal yang baik!


Sumber data tulisan

Referensi foto:

cdn.themix.org.uk/uploads/2012/09/mendingabrokenheartWP.jpg

Referensi kutipan:

www.goodreads.com/quotes/tag/move-on

Referensi tulisan:

[1]https://www.merriam-webster.com/dictionary/move%20on

[2]Perilloux, C. & Buss, D. (2008). Breaking up romantic relationships: costs experienced and coping strategies deployed. Evolutionary Psychology, 6(1), 164-181.

[3]Park, L. E., Sanchez, D. T., & Brynildsen, K. (2011). Maladaptive responses to relationship dissolution: The role of relationship contingent self-worth. Journal of Applied Social Psychology, 41(7), 1749-1773.

[4]https://www.psychologytoday.com/blog/meet-catch-and-keep/201405/can-rebound-relationship-be-the-real-deal

[5]http://www.psychologytoday.com/blog/shift-mind/201106/what-do-we-mean-by-moving

Let others know the importance of mental health !

Move On: Yang Kemudian Biarlah Berlalu Semoga Tidak Jadi Benalu

“Membiarkan seseorang pergi artinya menjemput realita bahwa beberapa orang hanya menjadi cuilan dari sejarah kehidupanmu, bukan cuilan dari takdirmu.” – Steve Maraboli

“Hari gini belum bisa move on? Ayolah, masa nggak bisa?”

“Udahlah yang dulu-dulu dibuang ke maritim aja, cari yang gres kan gampang, Bro!”

“Dia udah nyakitin kamu, tapi kau tetep mikiran dia? Oh, ya ampun, yang bener aja!”

“Apa sih yang bikin kau gak bisa move on sama dia? Banyak kali yang lebih baik selain dia!”

“Kamu kenapa seharian ini murung terus? Masih kepikiran dia?”

Pasti Anda tidak absurd dengan kalimat-kalimat diatas? Ya, kata-kata yang sering kali dilontarkan pada teman yang gagal move on! Memang menyarankan teman atau teman untuk move on lebih praktis dibandingkan dengan menjalankannya. Kenyataannya, move on tidak semudah membalikkan telapak tangan. Bagi sebagian orang move on ialah hal yang wajib dilakukan ketika sebuah kekerabatan tidak lagi sanggup dipertahankan. Bagi sebagian yang lain, niat untuk move on saja tidak terpikirkan alasannya ialah pusingnya bukan kepalang. Maka jangan remehkan, mereka yang susah move on lho, lantaran berdasarkan penelitian psikologi, putus sesudah menjalani kekerabatan merupakan sumber stres dan depresi yang berdampak pada emosi yang labil1. Nah, kenapa sih move on itu susah sekali? Yuk, simak mitos dan fakta berikut ini.

1. Mendengarkan lagu patah hati bisa menyembuhkan

Mitos. Ketika Anda gres saja putus dengan kekasih, masuk akal bila perasaan di hati bergejolak. Melakukan kegiatan pun jadi tidak menyenangkan lagi. Akhirnya, Anda tetapkan untuk menyetel radio atau mendengarkan musik yang sesuai dengan hati. Ya, seringkali lagu sendu dan duka menjadi pilihan yang terbaik untuk didengarkan ketika hati gundah gulana, bukan? Nah, ternyata pilihan Anda salah. Faktanya, di awal putus kemudian mendengarkan lagu-lagu gundah sembari mengingat kenangan bersama kekasih mungkin menciptakan Anda merasa tenang. Akan tetapi, kalau lagu gundah diputar terus menerus hingga berhari-hari justru menciptakan perasaan akan semakin buruk. Hal tersebut diakui oleh terapis musik yang berjulukan Dr Katrina McFerron. Beliau mengungkapkan bahwa mendengarkan lagu gundah disaat hati sedang gundah sanggup memperburuk kondisi kesehatan mental2. Oleh alasannya ialah itu, selain tidak baik untuk kesehatan mental, mendengarkan lagu gundah disaat hati risau sanggup menggagalkan niat move on.

2. Belum memaafkan

Fakta. Siapa yang menginginkan hidup dalam rasa kesal, sakit hati, dendam, dan penuh kegelisahan? Tentu hidup menjadi tidak nyaman. Terkadang mungkin diri ini masih belum bisa mendapatkan kenyataan bahwa ketika ini beranjak dari masa kemudian ialah pilihan yang tepat. Nah, kunci betapa sulitnya move on dari masa kemudian ialah sulit memaafkan. Memaafkan diri sendiri dan memaafkan kesalahan orang lain memang tidak mudah. Akan tetapi hal tersebut yang menciptakan susah sekali move on. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Hoffman Institute, memaafkan merupakan cuilan terpenting dari proses penyembuhan. Entah akhir amarah atau rasa sakit yang ada di dalam hati3. Proses memaafkan menciptakan kedamaian di hati dan di pikiran, serta menghilangkan perasaan bersalah juga malu. Fakta menunjukan bahwa mendapatkan kesalahan yang terjadi di masa kemudian ialah suatu hikmah yang berharga apabila Anda sanggup mencar ilmu dan beranjak untuk menjadi yang lebih baik dari sebelumnya. Memaafkan mengakibatkan diri Anda lebih bijak dan lapang dada, move on pun menjadi cepat.

3. Sudah memikirkan masa depan bersama si Dia

Fakta. Didalam sebuah kekerabatan yang serius tentu masa depan bersamanya sudah dipikirkan bersama-sama. Satu sama lain sudah menceritakan cita-cita, mimpi, dan harapan masing-masing. Namun, apa boleh buat kalau ternyata Anda tidak sanggup membangun keluarga yang sudah dicita-citakan berdua lantaran sesuatu hal. Faktanya, hal itulah yang menciptakan Anda susah move on. Bayangan di masa mendatang, prospek masa depan, dan tujuan hidup yang sama dengan visi misi hidup mantan kekasih menciptakan move on jadi terhambat. Akan tetapi, kalau sebuah kekerabatan tidak menemukan kecocokan sehingga tidak bisa bertahan maka berpisah memang jawabannya. Tinggal proses move on yang harus terus berlanjut!

4. Hati-hati dengan ‘Limerence’

Fakta. Dalam kajian ilmiah perihal jatuh cinta, terdapat istilah yang dinamakan ‘Limerence’. Limerence ialah suatu kondisi psikologis berupa daya tarik romantis terhadap orang lain hingga menciptakan 95% pikiran fokus hanya memikirkan pasangan. Dampaknya ialah sikap obsesif terhadap pasangan. Studi yang pernah dilakukan oleh seorang antropolog berjulukan Helen Fisher mengungkapkan bahwa orang yang sedang jatuh cinta dan terus memikirkan pasangan mereka mengaktifkan cuilan di otak yang berafiliasi dengan adiksi4. Kalau sudah adiksi atau ketagihan, tentu sulit melepasnya, bukan? Oleh alasannya ialah itu, cinta yang berlebih sanggup dipastikan mempersulit proses move on.

5. Tidak ada hubungannya dengan masa kecil

Mitos. Masa kecil dengan keluarga ternyata memperlihatkan efek yang signifikan terhadap cara individu membangun sebuah hubungan. Jika di masa kecil, orangtua sanggup memperlihatkan kehangatan dan rasa sayang yang cukup, anak akan merasa mempunyai figur lekat yang ia percaya. Anak akan tumbuh dengan perasaan kondusif dan terlindungi. Apabila suatu hari anak mendapatkan pengalaman ditinggal seseorang, ia tidak akan merasa jatuh dan rapuh. Sebaliknya, kalau anak dibesarkan oleh orang renta atau keluarga yang kurang memperlihatkan kasih sayang, anak akan tumbuh dengan kecemasan. Hal itulah yang menciptakan dirinya selalu membutuhkan orang lain disebelahnya untuk memperlihatkan afeksi atau rasa sayang. Ketika dirinya mengalami pengalaman ditinggal seseorang atau putus dengan kekasih, praktis sekali baginya untuk stres dan terpuruk. Oleh alasannya ialah itu, sulitnya move on juga disebabkan lantaran individu belum bisa berdiri sendiri membangun keyakinan diri. Bergantung pada kehadiran orang lain terang menghambat perjuangan move on.

Nah, sesudah membaca mitos dan fakta seputar move on yang beredar di sekeliling kita tentunya kita jadi lebih memahami fenomena move on. Tidak semua orang sanggup dengan praktis melupakan seseorang yang pernah singgah di hatinya, mereka punya alasan mengapa move on begitu berat dihadapinya. So, jangan takut untuk move on!


Sumber Data Tulisan:

1 Larson, Grace., & David A. Sbarra. (2015). Participating in Research on Romantic Breakups Promotes Emotional Recovery via Changes in Self-Concept Clarity. Social Psychology and Personality Science, Vol. 6(4), hlm. 399-406.

2http://www.huffingtonpost.com.au/2017/01/20/so-maybe-dont-keep-listening-to-that-breakup-song-if-you-want/

3 https://psychcentral.com/lib/using-forgiveness-to-move-on/

4 Fisher, Helen., dkk. (2005). Romantic Love: An fMRI Study of a Neural Mechanism for Mate Choice. The Journal of Comparative Neurology, hlm. 58-62.

5http://www.dailymail.co.uk/femail/article-3079345/Tracey-Cox-reveals-hard-let-love.html

Referensi foto: http://www.lovepanky.com/

Let others know the importance of mental health !