Masa Periodisasi Anak

Masa Periodisasi anak – Setiap orang akan mengalami periodisasi dalam perkembangannya, begitu juga sebaliknya perkembangan masa belum dewasa akan mengalami periodisasi dari mulai lahir, bicara dan mulai merangkak. Menurut Munandar (1985), ditinjau dari sudut psikologi anak dibagi antara lain:

  1. Masa bayi, adalah semenjak lahir hingga final tahun kedua.
  2. Masa anak awal atau masa kanak-kanak, adalah permulaan tahun ketiga hingga usia 6 tahun. Masa ini disebut pula masa anak prasekolah.
  3. Masa anak lanjut atau masa anak sekolah, adalah dari usia 6-12 tahun atau 13 tahun, masa ini disebut pula masa anak usia sekolah dasar pada usia ini biasanya anak duduk di sekolah dasar.
  4. Masa remaja, adalah dari usia 13-18 tahun.
Masa Periodisasi Anak
Masa Periodisasi Anak

Hurlock (1990), membagi periodisasi masa anak menjadi dua, adalah : early childhood pada usia 2-6 tahun dan late childhood pada usia 6 -12 tahun, sedangkan usia 0-1 tahun merupakan masa bayi, dimana pada masing-masing periode memiliki ciri-ciri yang sanggup membedakan pengertian anak dengan orang dewasa. Lebih lanjut lagi Havighust (dalam Kasiram, 1994), membagi masa anak menjadi dua juga, adalah : 1-6 tahun sebagai masa kanak-kanak (infancy dan early childhood), dan usia 6-12 tahun yang merupakan masa sekolah atau periode intelektual (middle childhood).

Baca :   Perkembangan Anak – Tugas-tugas Perkembangan Anak

Rujukan Buku :

  • Hurlock, Elizabeth B., 1973. Adolescent Development. Tokyo: Mc Graw-Hill     Kogakusha Ltd
  • Hurlock, Elizabeth B., 1976 Developmental Psychology New Delhi: Tata Mc     Graw-Hill Publishing Company Ltd

Artikel Masa Periodisasi anak pertama kali diterbitkan dunia psikologi pada 19 November 2008.

Pencarian: Psikologi Anak Sd, Pengertian Bayi, Masa Anak-anak, Psikologi Anak Usia 2-6 Tahun, Masa Anak, Perkembangan Masa Anak-anak, Perkembangan Anak Usia 6-12 Tahun, Periodisasi Perkembangan Anak, Pengertian Anak Usia Sekolah, Periodisasi Perkembangan,

Perlukah Anak Bermain?

Tuntutan anak untuk terus berprestasi dan menguasai banyak sekali keterampilan sudah merupakan ekspresi dominan di kota – kota besar di Indonesia. Di luar jam sekolah, anak dipadati dengan banyak sekali macam kursus, menyerupai : Kursus pelajaran (matematika, fisika, ekonomi), Kursus olah raga (renang, tenis, voli), Kursus alat musik dan seni (piano, biola, gitar, menggambar), Kursus bahasa abnormal (Inggris, Mandarin, Jepang).

Memang persaingan di sekolah semakin usang semakin meningkat. Jadi, sanggup dipahami dari sudut pandang orang bau tanah bahwa mereka ingin menunjukkan yang terbaik untuk anaknya. Namun, adakah waktu luang anak untuk bermain?

Manfaat Bermain

Bermain merupakan salah satu kebutuhan anak. Tidak menyerupai balasan sebagian orang bahwa bermain itu hanya buang-buang waktu, bergotong-royong banyak laba yang didapat seorang anak dengan bermain. Manfaat itu antara lain:

  • Berkembangnya kemampuan kinestesik dan motorik anak.
  • Berkembangnya otak kanan anak yang kuat terhadap kecerdasan emosional, kreativitas, dan spasial.
  • Berkembangnya kemampuan anak untuk bersosialisasi
  • Berkembangnya pengetahuan anak wacana norma dan nilai- nilai .
  • Berkembangnya kemampuan anak dalam memecahkan masalah,
  • Berkembangnya rasa percayaan diri anak.

Dengan banyak sekali hal konkret yang sanggup diambil dari bermain, alangkah baiknya jikalau disela-sela kesibukan berguru dan kursus, anak masih mempunyai waktu untuk bermain dan mengeksplorasi dunia sekitarnya. Jadi, permainan apakah yang menunjang perkembangan anak?

Berbagai permainan anak yang berdampak positif

Dengan kemajuan teknologi, banyak sekali jenis permainan dan online games yang dirancang untuk membuatkan kecerdasan anak. Namun, kekurangan dari jenis permainan ini yakni anak tidak berinteraksi dengan anak sebayanya atau lingkungan sekitarnya. Ada baiknya jikalau kita menengok kembali permainan – permainan tradisional yang dulu dimainkan oleh orang bau tanah bahkan kakek nenek kita.

Beberapa jenis permainan tradisional untuk anak

Engklek, congklak, lompat tali, bekel, dan tebak – tebakan. Permainan ini selain membantu membuatkan budi anak menyerupai berhitung, juga membantu membuatkan kemampuan anak untuk bersosialisasi.

Permainan petak umpet, petak jongkok, gobak sodor, dan benteng. Selain melatih anak bersosialisasi, permainan – permainan ini juga melatih kecerdasan spasial anak. Terlebih lagi, permainan ini juga bisa dijadikan salah satu bentuk olah raga.

Ajang-ajangan/dagangan, mobil-mobilan dari kulit jeruk, egrang, bola sodok, sepak takraw dan calung. Jenis permainan ini akan membantu berkembangnya kecerdasan natural anak alasannya yakni anak diajak untuk berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya. Mereka diajak untuk menciptakan mainannya sendiri dari bahan-bahan natural seperti: tumbuhan, tanah, tanah liat, pasir, genting, batu, dan buah-buahan.

Baca :   Ciri-ciri Anak Prasekolah atau TK

Terkadang, jauh lebih gampang bagi orang bau tanah untuk membelikan sofware permainan, komputer, atau televisi untuk menghibur anak-anaknya. Pandangan masyarakat dengan bermain di luar biasanya dikaitkan dengan penyakit dan image kotor. Namun, justru permainan tradisional atau “outdoor games”-lah yang akan membantu pertumbuhan anak menjadi lebih seimbang. Jadi, biarkanlah anak bermain dan berinteraksi dengan dunia sekitarnya.

Artikel ditulis oleh : Nathia Pratista


Pencarian: Manfaat Bermain, Definisi Bermain, Bermain, Anak Bermain, Manfaat Bermain Bagi Anak, Manfaat Permainan Gobak Sodor, Pentingnya Bermain Bagi Anak, Manfaat Permainan, Fungsi Bermain, Bermain Dengan Anak

Ciri-Ciri Anak Prasekolah Atau Tk

Ciri Anak Prasekolah atau TK – Perkembangan sosial merupakan pencapaian kematangan dalam hubungan sosial, sanggup juga diartikan sebagai proses berguru untuk beradaptasi terhadap norma-norma kelompok, moral, dan tradisi. Perkembangan sosial anak sangat dipengaruhi oleh proses perlakuan atau bimbingan orang renta terhadap anak dalam mengenalkan aneka macam aspek kehidupan sosial, atau norma- norma kehidupan bermasyarakat.

Dalam proses perkembanganya ada ciri-ciri yang menempel dan menyertai periode anak tersebut. Menurut Snowman (1993 dalam Patmonodewo, 2003) mengemukakan ciri-ciri anak prasekolah (3-6 tahun) yang biasanya ada TK. Ciri-ciri anak Taman Kanak-kanak dan prasekolah yang dikemukakan mencakup aspek fisik, sosial, emosi dan kognitif.

1) Ciri Fisik Anak Prasekolah Atau TK. Penampilan maupun gerak gerik prasekolah gampang dibedakan dengan anak yang berada dalam tahapan sebelumnya.

  • Anak prasekolah umumnya aktif. Mereka telah mempunyai penguasaan atau kontrol terhadap tubuhnya dan sangat menyukai kegiatan yang dilakukan sendiri.
  • Setelah anak melaksanakan aneka macam kegiatan, anak membutuhkan istirahat yang cukup, seringkali anak tidak menyadari bahwa mereka harus beristirahat cukup. Jadwal acara yang damai diharapkan anak.
  • Otot-otot besar pada anak prasekolah lebih berkembang dari kontrol terhadap jari dan tangan. Oleh lantaran itu biasanya anak belum terampil, belum sanggup melaksanakan kegiatan yang rumit menyerupai misalnya, mengikat tali sepatu.
  • Anak masih sering mengalami kesulitan apabila harus memfokuskan pandangannya pada obyek-obyek yang kecil ukurannya, itulah sebabnya koordinasi tangan masih kurang sempurna.
  • Walaupun badan anak lentur, tetapi tengkorak kepala yang melindungi otak masih lunak (soft). Hendaknya berhati-hati jika anak sabung dengan teman-temannya, sebaiknya dilerai, sebaiknya dijelaskan kepada bawah umur mengenai bahannya.
  • walaupun anak lelaki lebih besar, anak wanita lebih terampil dalam kiprah yang bersifat praktis, khususnya dalam kiprah motorik halus, tetapi sebaiknya jangan mengkritik anak lelaki apabila ia tidak terampil, jauhkan dari perilaku membandingkan anak lelaki-perempuan, juga dalam kompetisi ketrampilan menyerupai apa yang disebut diatas.

Baca :   Kompetensi Sosial, Definisi dan Pengertiannya

2) Ciri Sosial Anak Prasekolah atau TK

  • Umumnya anak pada tahapan ini mempunyai satu atau dua sahabat, tetapi sahabat ini cepat berganti, mereka umumnya sanggup cepat beradaptasi secara sosial, mereka mau bermain dengan teman. Sahabat yang dipilih biasanya yang sama jenis kelaminnya, tetapi kemudian berkembang sahabat dari jenis kelamin yang berbeda.
  • Kelompok bermain cenderung kecil dan tidak terorganisasi secara baik, oleh lantaran kelompok tersebut cepat berganti-ganti.
  • Anak lebih gampang seringkali bermain bersebelahan dengan anak yang lebih besar. Parten (1932) dalam social participation among praschool children melalui pengamatannya terhadap anak yang bermain bebas di sekolah, sanggup membedakan beberapa tingkah laris sosial: a) Tingkah laris unoccupied anak tidak bermain dengan sesungguhnya. Ia mungkin bangun di sekitar anak lain dan memandang temannya tanpa melaksanakan kegiatan apapun. b) Bermain soliter anak bermain sendiri dengan memakai alat permainan, berbeda dari apa yang dimainkan oleh sobat yang berada di dekatnya, mereka berusaha untuk tidak saling berbicara. c) Tingkah laris onlooker anak menghasilkan tingkah laris dengan mengamati. Kadang memberi komentar perihal apa yang dimainkan anak lain, tetapi tidak berusaha untuk bermain bersama. d) Bermain pararel bawah umur bermain dengan saling berdekatan, tetapi tidak sepenuhnya bermain bersama dengan anak lain, mereka memakai alat mainan yang sama, berdekatan tetapi dengan cara tidak saling bergantung. e) Bermain asosiatif anak bermain dengan anak lain tanpa organisasi. Tidak ada kiprah tertentu, masing-masing anak bermain dengan caranya sendiri-sendiri. f) Bermain Kooperatif anak bermain dalam kelompok di mana ada organisasi. Ada pemimpinannya, masing-masing anak melaksanakan kegiatan bermain dalam kegiatan, contohnya main toko-tokoan, atau perang-perangan.

Baca :   Fungsi dan Peran Orang Tua

3) Ciri Emosional Anak Prasekolah atau TK

  • Anak Taman Kanak-kanak cenderung mngekspreseikan emosinya dengan bebas dan terbuka. Sikap murka sering diperlihatkan oleh anak pada usia tersebut.
  • Iri hati pada anak prasekolah sering terjadi, mereka seringkali memperebutkan perhatian guru.

4) Ciri Kognitif Anak Prasekolah atau TK

  • Anak prasekolah umumnya terampil dalam berbahasa. Sebagian dari mereka bahagia berbicara, khususnya dalam kelompoknya, sebaiknya anak diberi kesempatan untuk berbicara, sebagian dari mereka dilatih untuk menjadi pendengar yang baik.
  • Kompetensi anak perlu dikembangkan melalui interaksi, minat, kesempatan, mengagumi dan kasih sayang. Ainsworth dan Wittig (1972) serta Shite dan Wittig (1973) menjelaskan cara membuatkan semoga anak sanggup menjelma kompeten dengan cara sebagai berikut: a) Lakukan interaksi sesering mungkin dan bervariasi dengan anak. b) Tunjukkan minat terhadap apa yang dilakukan dan dikatakan anak. c) Berikan kesempatan kepada anak untuk meneliti dan mendapat kesempatan dalam banyak hal.
  • Berikan kesempatan dan dorongan maka untuk melaksanakan aneka macam kegiatan secara mandiri. a) Doronglah anak semoga mau mencoba mendapat ketrampilan dalam aneka macam tingkah laku. b) Tentukan batas-batas tingkah laris yang diperbolehkan oleh lingkungannya. c) Kagumilah apa yang dilakukan anak. d) Sebaiknya apabila berkomunikasi dengan anak, lakukan dengan hangat dan dengan ketulusan hati.

Pencarian: Ciri-ciri Anak-anak, Ciri Ciri Anak Anak, Anak Prasekolah, Psikologi Anak Tk, Perkembangan Anak Prasekolah, Anak Pra Sekolah, Ciri-ciri Anak, Perkembangan Anak Tk, Pra Sekolah, Prasekolah,

Kekerasan Terhadap Anak – Pengertian Dan Definisinya

Kekerasan terhadap Anak. Pada awalnya terminologi tindak kekerasan terhadap anak atau child abuse berasal dari dunia kedokteran. Sekitar tahun 1946, seorang radiologist Caffey (dalam Ibnu Anshori, 2007) melaporkan kasus berupa gejala-gejala klinik ibarat patah tulang panjang yang beragam (multiple fractures) pada belum dewasa atau bayi disertai pendarahan tanpa diketahui sebabnya (unrecognized trauma). Dalam dunia kedokteran, kasus ini dikenal dengan istilah Caffey Syndrome (Ranuh dalam Anshori, 2007).

Kasus yang ditemukan Caffey diatas semakin menarik perhatian publik saat Henry Kempe tahun 1962 menulis problem ini di Journal of the American Medical Assosiation, dan melaporkan bahwa dari 71 Rumah Sakit yang ia teliti, ternyata terjadi 302 kasus tindak kekerasan terhadap anak-anak, dimana 33 anak dilaporkan meninggal tanggapan penganiayaan yang dialaminya, dan 85 mengalami kerusakan otak yang permanen. Henry (dalam Anshori, 2007) menyebut kasus penelentaran dan penganiayaan yang dialami belum dewasa dengan istilah Battered Child Syndrome, yaitu setiap keadaan yang disebabkan kurangnya perawatan dan proteksi terhadap anak oleh orangtua atau pengasuh lain.

Selain Battered Child Syndrome, istilah lain untuk menggambarkan kasus penganiayaan yang dialami belum dewasa ialah Maltreatment Syndrome, yang mencakup gangguan fisik ibarat diatas, juga gangguan emosi anak dan adanya tanggapan asuhan yang tidak memadai, ekploitasi seksual dan ekonomi, pinjaman masakan yang tidak layak bagi anak atau masakan kurang gizi, pengabaian pendidikan dan kesehatan dan kekerasan yang berkaitan dengan medis (Gelles dalam Anshori, 2007).

Menurut Sutanto (2006), kekerasan anak ialah perlakuan orang arif balig cukup akal atau anak yang lebih bau tanah dengan memakai kekuasaan/otoritasnya terhadap anak yang tak berdaya yang seharusnya menjadi tanggung jawab/pengasuhnya, yang berakibat penderitaan, kesengsaraan, cacat atau kematian. Kekerasan anak lebih bersifat sebagai bentuk penganiayaan fisik dengan terdapatnya tanda atau luka pada badan sang anak.

Jika kekerasan terhadap anak didalam rumah tangga dilakukan oleh orang tua, maka hal tersebut sanggup disebut kekerasan dalam rumah tangga. Tindak kekerasan rumah tangga yang termasuk di dalam tindakan kekerasan rumah tangga (www.ocn.ne.jp) ialah menawarkan penderitaan baik secara fisik maupun mental di luar batas-batas tertentu terhadap orang lain yang berada di dalam satu rumah; ibarat terhadap pasangan hidup, anak, atau orang bau tanah dan tindak kekerasan tersebut dilakukan di dalam rumah.

Baca :   Fungsi dan Peran Orang Tua

Banyak orangtua menganggap kekerasan pada anak ialah hal yang wajar. Mereka beranggapan kekerasan ialah cuilan dari mendisiplinkan anak. Mereka lupa bahwa orangtua ialah orang yang paling bertanggung jawab dalam mengupayakan kesejahteraan, perlindungan, peningkatan kelangsungan hidup, dan mengoptimalkan tumbuh kembang anaknya. Keluarga ialah daerah pertama kali anak berguru mengenal aturan yang berlaku di lingkungan keluarga dan masyarakat.

Sudah barang tentu dalam proses berguru ini, anak cenderung melaksanakan kesalahan. Bertolak dari kesalahan yang dilakukan, anak akan lebih mengetahui tindakan-tindakan yang bermanfaat dan tidak bermanfaat, patut atau tidak patut. Namun orang tua menyikapi proses berguru anak yang salah ini dengan kekerasan. Bagi orangtua, tindakan anak yang melanggar perlu dikontrol dan dihukum. bagi orangtua tindakan yang dilakukan anak itu melanggar sehingga perlu dikontrol dan dihukum.

Wikipedia Indonesia (2006) menawarkan pengertian bahwa kekerasan merujuk pada tindakan aksi dan pelanggaran (penyiksaan, pemerkosaan, pemukulan, dll.) yang mengakibatkan atau dimaksudkan untuk mengakibatkan penderitaan atau menyakiti orang lain. Istilah kekerasan juga berkonotasi kecenderungan berangasan untuk melaksanakan sikap yang merusak.

Kekerasan terjadi saat seseorang memakai kekuatan, kekuasaan, dan posisi nya untuk menyakiti orang lain dengan sengaja, bukan karena kebetulan (Andez, 2006). Kekerasan juga mencakup ancaman, dan tindakan yang sanggup menimbulkan luka dan kerugian. Luka yang diakibatkan sanggup berupa luka fisik, perasaan, pikiran, yang merugikan kesehatan dan mental.kekerasan anak Menurut Andez (2006) kekerasan pada anak ialah segala bentuk tindakan yang melukai dan merugikan fisik, mental, dan seksual termasuk hinaan meliputi: Penelantaran dan perlakuan buruk, Eksploitasi termasuk eksploitasi seksual, serta trafficking/ jual-beli anak. Sedangkan Child Abuse ialah semua bentuk kekerasan terhadap anak yang dilakukan oleh mereka yang seharusnya bertanggung jawab atas anak tersebut atau mereka yang mempunyai kuasa atas anak tersebut, yang seharusnya sanggup di percaya, contohnya orang tua, keluarga dekat, dan guru.

Baca :   Ciri-ciri Anak Prasekolah atau TK

Sedangkan Nadia (2004) mengartikan kekerasan terhadap anak sebagai bentuk penganiayaan baik fisik maupun psikis. Penganiayaan fisik ialah tindakan-tindakan kasar yang mencelakakan anak, dan segala bentuk kekerasan fisik pada anak yang lainnya. Sedangkan penganiayaan psikis ialah semua tindakan merendahkan atau meremehkan anak. Alva menambahkan bahwa penganiayaan pada belum dewasa banyak dilakukan oleh orangtua atau pengasuh yang seharusnya menjadi seorang pembimbing bagi anaknya untuk tumbuh dan berkembang.

Lebih lanjut Hoesin (2006) melihat kekerasan terhadap anak sebagai bentuk pelanggaran terhadap hak-hak anak. dan dibanyak negara dikategorikan sebagai kejahatan sehingga mencegahnya sanggup dilakukan oleh para petugas penegak hukum. Sedangkan Patilima (2003) menganggap kekerasan merupakan perlakuan yang salah orang tua. Patilima mendefinisikan perlakuan salah pada anak ialah segala perlakuan terhadap anak yang akibat-akibat kekerasan mengancam kesejahteraan dan tumbuh kembang anak, baik secara fisik, psikologi sosial, maupun mental.


Pencarian: Yhs-0001, Pengertian Penganiayaan, Definisi Kekerasan, Kekerasan Anak Dalam Rumah Tangga, Definisi Penganiayaan, Bentuk Penganiayaan, Kekerasan Dalam Rumah Tangga Terhadap Anak, Kasus Penganiayaan Anak, Bentuk Kekerasan Terhadap Anak, Kejahatan Terhadap Anak,

Perkembangan Sosial Anak-Anak

Perkembangan Sosial Anak-Anak. Melalui pergaulan atau kekerabatan sosial, baik dengan orang tua, anggota keluarga, orang berilmu balig cukup akal lainnya maupun sobat bermainnya, anak mulai membuatkan bentuk-bentuk tingkah laris sosial.

Bentuk  Tingkah Laku Sosial Pada Usia Anak

Menurut Yusus (2002), bentuk-bentuk tingkah laris sosial pada usia anak itu ialah sebagai berikut:

a) pembangkangan (negativisme), yaitu suatu bentuk tingkah laris melawan, tingkah laris ini terjadi sebagai reaksi terhadap penerapan disiplin atau tuntutan orang renta atau lingkungan yang tidak sesuai dengan kehendak anak. Tingkah laris melawan merupakan salah satu bentuk dari proses perkembangan tersebut.

b) Agresi (agression), yaitu sikap menyerang balik secara fisik (nonverbal) maupun kata-kata (verbal). Agresi ini merupakan salah satu bentuk reaksi terhadap putus asa (rasa kecewa sebab tidak terpenuhi kebutuhan atau keinginannya) yang dialaminya. Agresi ini mewujud dalam prilaku menyerang, seperti, memukul, mencubit, menendang, menggigit, marah-marah dan mencaci maki.

c) Berselisih atau bertengkar (quarreling), terjadi apabila seorang anak merasa tersinggung atau terganggu oleh sikap dan prilaku anak lain, menyerupai diganggu pada dikala mengerjakan sesuatu atau direbut barang atau mainannya. d) Menggoda (teasing), yaitu sebagai bentuk lain dari tingkah laris agresif. Menggoda merupakan serangan mental terhadap orang lain dalam bentuk ekspresi (kata-kata olok-olokan atau cemoohan). Sehingga menimbulkan reaksi murka pada orang yang diserangnya.

e) Persaingan (rivarly), yaitu impian untuk melebihi orang lain dan selalu didorong (distimulasi) orang lain.

f) Kerja sama (cooperation), yaitu sikap mau bekerja sama dengan kelompok. Anak yang berusia dua atau tiga tahun belum berkembang sikap bekerjasamanya, mereka masih berpengaruh sikap self centered-nya.

g) Tingkah laris berkuasa (ascendant behavior), yaitu sejenis tingkah laris untuk menguasai situasi sosial, mendominasi atau bersikap bossiness wujud dari tingkah laris ini, menyerupai meminta, menyuruh dan mengancam atau memaksa orang lain untuk memenuhi kebutuhan dirinya.

h) Mementingkan diri sendiri (selfishness) yaitu sikap egosentris dalam memenuhi interest atau keinginannya.

i) Simpati (Sympaty), yaitu sikap emosional yang mendorong individu untuk menaruh perhatian terhadap orang lain, mau mendekati atau bekerja sama dengannya. Seiring dengan bertambahnya usia, anak mulai sanggup mengurangi sikap selfish-nya dan beliau mulai membuatkan sikap sosialnya, dalam hal ini rasa simpati terhadap orang lain.

Baca :   Perlukah Anak Bermain?

Sedangkan berdasarkan Hurlock (1980 : 81) sikap sosial belum dewasa pra sekolah sanggup dikategorikan menjadi dua rujukan yaitu rujukan sikap sosial dan tidak sosial:

a) Pola Sosial.

  1. Meniru. Agar sama dengan kelompok, anak menggandakan sikap dan sikap orang yang sangat ia kagumi,
  2. Persaingan. Keinginan untuk mengungguli dan mengalahkan orang-orang lain.
  3. Kerjasama. Pada simpulan tahun ketiga bermain kooperatif dan kegiatan kelompok mulai berkembang dan meningkat dengan baik dalam frekwensi maupun lamanya berlangsung, bersamaan dengan meningkatnya kesempatan untuk bermain dengan anak lain,
  4. Simpati. Karena simpati menumbuhkan pengertian perihal perasaan-perasaan dan emosi orang lain.
  5. Empati. Seperti halnya simpati, tenggang rasa menumbuhkan pengertian perihal perasaan dan emosi orang lain tetapi di samping itu juga membutuhkan kemampuan untuk membayangkan diri sendiri di kawasan orang lain.
  6. Dukungan Sosial. Menjelang berakhirnya awal masa kanak-kanak, santunan sosial dari sobat menjadi lebih penting daripada persetujuan dari orang-orang dewasa, anak beranggapan bahwa sikap bandel dan sikap mengganggu merupakan cara untuk memperoleh santunan dari teman-teman sebaya,
  7. Membagi. Dari pengalaman bersama orang-orang lain, anak mengetahui bahwa salah satu cara untuk memperoleh persetujuan sosial ialah dengan membagi miliknya terutama mainan untuk belum dewasa lain, lambat laun sifat diri sendiri bermetamorfosis sifat murah hati,
  8. Perilaku Akrab. Anak yang pada waktu bayi memperoleh kepuasan dari kekerabatan yang hangat, erat dan personal dengan orang lain berangsur-angsur menawarkan kasih sayang kepada orang luar rumah, menyerupai guru taman indria atau benda-benda ini disebut obyek kesayangan.

b) Pola Tidak Sosial.

  1. Negativisme. Negativisme atau melawan otoritas orang dewasa,
  2. Agresif. Perilaku bernafsu meningkat antara usia dua atau empat tahun,
  3. Perilaku Berkuasa. Perilaku Berkuasa atau merajai mulai usia sekitar tiga tahun,
  4. Memikirkan Diri Sendiri. Karena cakrawala sosial anak terutama terbatas di rumah, belum dewasa seringkali memikirkan diri sendiri, dengan meluasnya cakrawala lambat laun sikap memikirkan diri sendiri berkurang tetapi sikap murah hati masih sangat sedikit,
  5. Mementingkan Diri Sendiri. Seperti halnya sikap memikirkan diri sendiri lambat laun diganti oleh minat dan perhatian kepada orang-orang lain, cepatnya perubahan ini bergantung pada banyaknya kontak orang-orang di luar rumah dan berapa besar impian mereka untuk diterima teman-temannya,
  6. Merusak. Ledakan amarah sering disertai tindakan-tindakan merusak benda-benda di sekitarnya,
  7. Pertentangan Seks. Sampai empat tahun anak pria dan wanita bermain bahu-membahu dengan baik, sesudah itu anak pria mengalami tekanan sosial yang tidak menghendaki acara bermain yang dianggap sebagai bencong banyak anak pria yang berperilaku bernafsu yang melawan belum dewasa perempuan,
  8. Prasangka. Sebagian besar anak pra sekolah lebih suka bermain dengan teman-teman yang berasal dari ras yang sama, tetapi mereka jarang menolak bermain dengan belum dewasa dari ras lain.

Baca :   Latar Belakang Kekerasan pada Anak

Pada usia pra sekolah (terutama mulai hingga empat tahun), perkembangan sosial anak mulai nampak jelas, sebab mereka sudah mulai aktif bekerjasama dengan sobat sebayanya. Menurut Yusus (2002) gejala perkembangan sosial pada tahap ini ialah :

a) Anak mulai mengetahui aturan-aturan, baik di lingkungan keluarga maupun dalam lingkungan bermain.

b) Sedikit demi sedikit anak sudah mulai tunduk pada aturan.

c) Anak mulai menyadari hak atau kepentingan orang lain.

d) Anak mulai sanggup bermain bersama belum dewasa lain atau sobat sebaya (peer group)..

Rujukan Buku :
Hurluck, E. , 1990. Psikologi Perkembangan. Jakarta: Erlangga.
Hurlock, Elizabeth B., 1973. Adolescent Development. Tokyo: Mc Graw-Hill Kogakusha Ltd.

Artikel Perkembangan Sosial Anak-Anak pertama kali diterbitkan dunia psikologi pada 19 November 2008


Pencarian: Pengertian Anak, Definisi Anak, Tugas Perkembangan Anak, Tugas-tugas Perkembangan, Pengertian Perkembangan Anak, Pengertian Anak-anak, Tugas Tugas Perkembangan Anak, Defenisi Anak, Pengertian Anak Anak, Definisi Anak-anak,

Dampak Kekerasan Terhadap Anak

Dampak Kekerasan terhadap Anak. Moore (dalam Nataliani, 2004) menyebutkan bahwa imbas tindakan dari korban penganiayaan fisik sanggup diklasifikasikan dalam beberapa kategori. Ada anak yang menjadi negatif dan kasar serta gampang frustasi; ada yang menjadi sangat pasif dan apatis; ada yang tidak mempunyai kepibadian sendiri; ada yang sulit menjalin kekerabatan dengan individu lain dan ada pula yang timbul rasa benci yang luar biasa terhadap dirinya sendiri. Selain itu Moore juga menemukan adanya kerusakan fisik, ibarat perkembangan badan kurang normal juga rusaknya sistem syaraf.

Anak-anak korban kekerasan umumnya menjadi sakit hati, dendam, dan menampilkan sikap menyimpang di lalu hari. Bahkan, Komnas PA (dalam Nataliani, 2004) mencatat, seorang anak yang berumur 9 tahun yang menjadi korban kekerasan, mempunyai harapan untuk membunuh ibunya.

Berikut ini ialah dampak-dampak yang ditimbulkan kekerasan terhadap anak (child abuse) , antara lain;

1) Dampak kekerasan fisik, anak yang mendapat perlakuan kejam dari orang tuanya akan menjadi sangat agresif, dan sehabis menjadi orang renta akan berlaku kejam kepada anak-anaknya. Orang renta kasar melahirkan belum dewasa yang agresif, yang pada gilirannya akan menjadi orang sampaumur yang menjadi agresif. Lawson (dalam Sitohang, 2004) menggambarkan bahwa semua jenis gangguan mental ada hubungannya dengan perlakuan jelek yang diterima insan saat ia masih kecil. Kekerasan fisik yang berlangsung berulang-ulang dalam jangka waktu usang akan menjadikan cedera serius terhadap anak, meninggalkan bekas luka secara fisik hingga mengakibatkan korban meninggal dunia;

2) Dampak kekerasan psikis. Unicef (1986) mengemukakan, anak yang sering dimarahi orang tuanya, apalagi diikuti dengan penyiksaan, cenderung menggandakan sikap jelek (coping mechanism) ibarat bulimia nervosa (memuntahkan masakan kembali), penyimpangan contoh makan, anorexia (takut gemuk), kecanduan alkohol dan obat-obatan, dan mempunyai dorongan bunuh diri. Menurut Nadia (1991), kekerasan psikologis sukar diidentifikasi atau didiagnosa sebab tidak meninggalkan bekas yang faktual ibarat penyiksaan fisik. Jenis kekerasan ini meninggalkan bekas yang tersembunyi yang termanifestasikan dalam beberapa bentuk, ibarat kurangnya rasa percaya diri, kesulitan membina persahabatan, sikap merusak, menarik diri dari lingkungan, penyalahgunaan obat dan alkohol, ataupun kecenderungan bunuh diri;

Baca :   Perkembangan Sosial Anak-Anak

3) Dampak kekerasan seksual. Menurut Mulyadi (Sinar Harapan, 2003) diantara korban yang masih merasa dendam terhadap pelaku, takut menikah, merasa rendah diri, dan trauma akhir eksploitasi seksual, meski sekarang mereka sudah sampaumur atau bahkan sudah menikah. Bahkan eksploitasi seksual yang dialami semasa masih belum dewasa banyak ditengarai sebagai penyebab keterlibatan dalam prostitusi. Jika kekerasan seksual terjadi pada anak yang masih kecil imbas jelek yang ditimbulkan antara lain dari yang biasanya tidak mengompol jadi mengompol, gampang merasa takut, perubahan contoh tidur, kecemasan tidak beralasan, atau bahkan simtom fisik ibarat sakit perut atau adanya problem kulit, dll (dalam Nadia, 1991);

4) Dampak penelantaran anak. Pengaruh yang paling terlihat bila anak mengalami hal ini ialah kurangnya perhatian dan kasih sayang orang renta terhadap anak,  Hurlock (1990) menyampaikan bila anak kurang kasih sayang dari orang renta mengakibatkan berkembangnya perasaan tidak aman, gagal membuatkan sikap akrab, dan selanjutnya akan mengalami problem pembiasaan diri pada masa yang akan datang.

Baca :   Psikologi Parenting, Gaya Orangtua Mendidik Anak

Dampak kekerasan terhadap anak lainnya (dalam Sitohang, 2004) ialah kelalaian dalam mendapat pengobatan mengakibatkan kegagalan dalam merawat anak dengan baik. Kelalaian dalam pendidikan, mencakup kegagalan dalam mendidik anak bisa berinteraksi dengan lingkungannya gagal menyekolahkan atau menyuruh anak mencari nafkah untuk keluarga sehingga anak terpaksa putus sekolah.

Berdasarkan uraian diatas dampak kekerasan terhadap anak antara lain; 1) Kerusakan fisik atau luka fisik; 2) Anak akan menjadi individu yang kukrang percaya diri, pendendam dan  agresif: 3) Memiliki sikap menyimpang, seperti, menarik diri dari lingkungan, penyalahgunaan obat dan alkohol, hingga dengan kecenderungan bunuh diri; 4) Jika anak mengalami kekerasan seksual maka akan menjadikan trauma mendalam pada anak, takut menikah, merasa rendah diri, dll; 5) Pendidikan anak yang terabaikan.

Artikel Dampak Kekerasan terhadap Anak pertama kali diterbitkan dunia psikologi pada 27 November 2008.


Pencarian: Dampak Kekerasan Terhadap Anak, Kekerasan Anak, Dampak Kekerasan, Kekerasan Orang Tua Terhadap Anak, Pengertian Kekerasan Pada Anak, Akibat Anak Sering Dimarahi, Akibat Kekerasan Terhadap Anak, Dampak Psikologis Kekerasan Terhadap Anak, Akibat Kekerasan Pada Anak, Kdrt Terhadap Anak

Kompetensi Sosial, Definisi Dan Pengertiannya

Definisi Kompetensi Sosial. Menurut Adam (dalam Martani & Adiyanti, 1991) kompetensi sosial mempunyai korelasi yang erat dengan adaptasi sosial dan kualitas interaksi antar pribadi. Membangun kompetensi sosial pada kelompok bermain sanggup dimulai dengan membangun interaksi di antara anak-anak, interaksi yang dibangun dimulai dengan bermain hal-hal yang sederhana, contohnya bermain peran, mentaati tata tertib dalam kelompoknya, sehingga kompetensi sosialnya akan terbangun.

Kompetensi sosial merupakan salah satu jenis kompetensi yang harus dimiliki oleh bawah umur dan pemilikan kompetensi ini merupakan suatu hal yang penting. Menurut Leahly (1985) kompentensi merupakan suatu bentuk atau dimensi penilaian diri (self evaluation), dengan kompetensi yang dimilikinya.

Ross-Krasnor (Denham dkk, 2003) mendefinisikan kompetensi sosial sebagai keefektifan dalam berinteraksi, hasil dari perilaku-perilaku teratur yang memenuhi kebutuhan-kebutuhan pada masa perkembangan dalam jangka pendek maupun dalam jangka panjang. Bagi anak pra sekolah, sikap yang memperlihatkan kompetensi sosial berkisar pada tugas-tugas utama perkembangan yaitu menjalin ikatan kasatmata dan self regulations selama berinteraksi dengan sahabat sebaya. Dalam pandangan teoritis kompetensi sosial, terdapat dua fokus pengukuran yaitu pada diri atau orang lain, dalam hal ini yakni mengukur kesuksesan anak dalam memenuhi tujuan eksklusif atau korelasi interpersonal anak.

Beberapa pakar di bidang psikologi dan pendidikan berasumsi bahwa kompetensi sosial merupakan dasar bagi kualitas korelasi antar sahabat sebaya yang akan terbentuk (Adam, 1983). Keberhasilan untuk masuk dan menjadi bab dari kelompok sahabat sebaya atau kompetensi dengan sahabat bukanlah hal yang mudah. Hal ini tidak diukur dengan menghitung banyaknya jumlah korelasi yang dilakukan seorang anak dengan bawah umur lainnya, apabila korelasi seorang anak sebagian besar dalam bentuk aksi atau asimetris terus-menerus (bersama anak yang selalu menjadi pengikut), hal ini tidak memperlihatkan kompetensi sosial walaupun beliau sering berinteraksi. Sebaliknya, terkadang bermain sendiri tidak berarti kurang berkompetensi sosial. Bermain sendiri berbeda dengan “sendirian” (hanya berada di bersahabat kelompok tetapi tidak bergabung) (Coplat dkk, dalam Sroufe dkk, 1996).

Baca :   Rasa Takut, Apakah anda Phobia?

Kompetensi sosial yakni kemampuan anak untuk mengajak maupun merespon teman- temannya dengan perasaan positif, tertarik untuk berteman dengan teman-temannya serta diperhatikan dengan baik oleh mereka, sanggup memimpin dan juga mengikuti, mempertahankan sikap memberi dan mendapatkan dalam berinteraksi dengan temannya (Vaughn dan Waters dalam Sroufe dkk, 1996), dikarenakan bawah umur prasekolah lebih menentukan sahabat bermain yang berperilaku proporsional (Hart dkk. dalam Papalia dkk, 2002).

Singkatnya, individu yang berkompeten bisa memakai ketrampilan dan pengetahuan untuk melaksanakan korelasi kasatmata dengan orang lain (Asher dkk dalam Pertiwi, 1999). Ford (Latifah, 2000) memberi definisi lain namun tidak jauh berbeda mengenai kompetensi sosial yaitu tindakan yang sesuai dengan tujuan dalam konteks sosial tertentu, dengan memakai cara-cara yang sempurna dan memperlihatkan efek yang positif bagi perkembangan. Selanjutnya sanggup dikatakan bahwa orang yang mempunyai kompetensi sosial yang tinggi bisa mengekspresikan perhatian sosial lebih banyak, lebih simpatik, lebih suka menolong dan lebih sanggup mencintai.

Baca :   Pengertian Penyesuaian Sosial

Rujukan buku :

    • Martani, W., & Adiyanti, M., G., 1990. Kompetensi Sosial Dan Kepercayaan Diri Remaja. Laporan Penelitian (Tidak Diterbitkan). Yogyakarta: Fakultas Psikologi Universitas Gajah Mada.
    • Denham, S., A., & Queenan, P., 2003. Preschool Emotional Competence: Pathway To Social Competence. Journal Of Child Development. Vol. 74, No 1, 238-256.
    • Latifah, L., 2000. Kompetensi Sosial, Status Sosial, Dan Viktimisasi Disekolah Dasar. Skripsi (Tidak Diterbitkan), Yogyakarta: Fakultas Psikologi Universitas Gajah Mada.
    • Adam, G., R., 1983. Social Competence During Adolescence: Social Sensitivity, Locus Of Control, And Peer Popularity. Journal Of Yoauth And Adolescence. Vol. 12, No 03, 203-211.
    • Papalia, D., E., Olds, S., W., & Feldman, R., D., 2002. A Chlid’s World, Infancy Through Adolescence. Ninth Edition. New York, USA: Mcgraw- Hill Companies, Inc.

Artikel ‘Kompetensi Sosial, Definisi dan Pengertiannya‘ pertama kali diterbitkan dunia psikologi pada 21 November 2008


Pencarian: Kompetensi Sosial, Pengertian Kompetensi Sosial, Kompetensi Pedagogik, Pengertian Kompetensi, Kompetensi Sosial Adalah, Pengertian Kompetensi Kepribadian, Kompetensi Kepribadian, Pengertian Kompetensi Pedagogik, Definisi Kompetensi, Kopetensi Sosial,